> >

Sebagian Beras Impor Sudah Tiba di Tanah Air, Bantu Redam Lonjakan Harga Jelang Akhir Tahun

Ekonomi dan bisnis | 17 Desember 2022, 12:38 WIB
ADRYAN YOGA PARAMADWYA Proses bongkar muat beras impor dari Vietnam di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (16/12/2022). Perum Bulog memastikan stabilitas harga beras setelah kedatangan 10.000 ton beras impor dari Vietnam. Pemerintah mengimpor 500.000 ton beras dari Vietnam, Thailand, Pakistan, dan Myanmar yang akan masuk secara bertahap hingga Februari 2023 atau sebelum panen raya. (Sumber: Kompas.id/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Perum Bulog mulai merealisasikan impor beras sebanyak 200.000 ton hingga akhir 2022.

Beras impor tersebut, diharapkan dapat memperkuat cadangan pemerintah sekaligus menjadi sinyal bagi pelaku perberasan lainnya untuk melepas stok sehingga suplai di pasar tak lagi menipis dan laju kenaikan harga beras teredam.

Realisasi itu dibuktikan dengan kedatangan sebanyak 4.900 ton beras dari Vietnam di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (16/12/2022).

Beras impor yang tiba itu telah dikemas di dalam karung berlogo Bulog ukuran 50 kilogram (kg) dengan kadar pecah 5 persen.

Sebanyak 5.000 ton beras dari Thailand juga diperkirakan tiba pada hari yang sama di Pelabuhan Merak, Banten.

Melansir dari Kompas.id, saat meninjau bongkar muat, Menteri Perdagangan Zukifli Hasan menyatakan, beras impor didatangkan untuk menstabilkan harga di tingkat konsumen.

Ia melihat, harga beras dalam beberapa bulan terakhir sudah meroket sampai Rp 1.000 per kg sehingga Bulog perlu operasi pasar. Namun, setelah Bulog menggelontorkan stoknya, harga masih merangkak naik. Padahal, stok Bulog sudah berkurang banyak.

“Oleh sebab itu, kita harus mencari sumber suplai beras agar kepercayaan pasar tidak terganggu,” tutur Zulhas, sapaan akrabnya.

Baca Juga: 5.000 Ton Beras Impor Vietnam Tiba di Tj. Priok, Buwas: Nanti Sore Ada Lagi Dari Thailand

Berdasarkan Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis menunjukkan, rata-rata nasional harga beras medium di pasar tradisional per Jumat (16/12/2022) berkisar Rp 12.350-Rp 12.550 per kg. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan pada awal semester II-2022 yang Rp 11.550-Rp 11.750 per kg.

Zulkifli mengharapkan, pergerakan beras, khususnya kualitas medium, akan stabil di kisaran harga eceran tertinggi (HET).

Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras menyebutkan, HET beras medium berkisar Rp 9.450-Rp 10.250 per kg, bergantung pada wilayahnya.

 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pangan Nasional (NFA) Arief Prasetyo Adi menilai, pergerakan harga beras medium di rentang Rp 11.000-Rp 11.500 per kg sudah tidak wajar.

Dengan kedatangan beras impor, dia mengimbau pelaku penggilingan padi untuk melepas stoknya agar harganya tidak tertekan karena operasi pasar Bulog.

Baca Juga: Sembako hingga Emas Batangan Bebas PPN, Simak Aturan Terbaru Ditjen Pajak

Sementara itu, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Perum Bulog periode 2007-2009 Mohammad Ismet memperkirakan, pelepasan beras impor yang jumlahnya mencapai 200.000 ton hingga akhir tahun dapat mengendalikan lonjakan harga secara signifikan.

Namun, Bulog harus operasi pasar secara kontinu sehingga mengubah ekspektasi pasar yang mulanya berharap harga akan melambung dan untung besar dapat diraup.

“Jumlah (impor) tersebut sudah signifikan untuk waktu yang relatif pendek,” ujarnya yang juga pengamat pertanian Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Jumat, dikutip dari Kompas.id.

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV/Kompas.id


TERBARU