> >

Nadiem Makarim Dorong Setiap Rektor PTNBH Mulai Cari Dana Abadi Sendiri, Ini Alasannya

Ekonomi dan bisnis | 27 Juni 2022, 11:28 WIB
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim (Sumber: Kompas TV/Nurul Fitriana)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mendorong setiap rektor di Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) untuk mulai mencari dana abadi sendiri, selain dari pemerintah dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa.

Menurut Nadiem, karena ujungnya anggaran itulah yang akan menjadi bayaran bagi dosen non- PNS, menjadi anggaran transformasi pendidikan, pembelian research lab yang lebih mutakhir, hingga ekspansi program-program beasiswa.

Dalam hal ini, Nadiem mendorong seluruh rektor atau pimpinan PTNBH bisa mulai mencari dana abadi dengan menambah sumber pendapatan, yakni dari donasi alumni dan masyarakat, kerja sama internasional, dan kegiatan komersial.

"Kita melihat World Class University di seluruh dunia semuanya memiliki kelima source of revenue (sumber pendapatan) ini dan memiliki tim yang berdedikasi untuk benar-benar mencari uang (dana abadi) ini," kata Nadiem Makarim dalam peluncuran Merdeka Belajar episode 21 tentang Dana Abadi Perguruan Tinggi yang dipantau secara daring, Senin (27/6/2022).

Baca Juga: Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka Diterapkan 2022, Nadiem: Kedepankan Belajar yang Menyenangkan

Acara yang juga dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani dan seluruh rektor PTNBH di Indonesia, Nadiem juga mencontohkan dengan beberapa universitas di dunia yang telah berhasil melakukan penggalangan dana abadi dari alumni, salah satunya Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Pada 2022, MIT diketahui menargetkan donasi sebesar 80 juta dollar AS dari sekitar 40.000 orang alumni. Adapun nantinya, dana tersebut akan digunakan untuk beasiswa, riset, SDM pendidik, dan pengembangan dana abadi. Selain itu, kata Nadiem, penggunaan yang terpenting dari dana abadi tersebut, yaitu untuk meningkatkan world class status daripada universitas.

Lebih lanjut, Nadiem menjelaskan bahwa hingga tahun 2022 dana pengeluaran pendidikan tinggi Indonesia masih rendah dan berada di peringkat 8 dari 9 negara di dunia.

Bahkan, Indonesia masih berada di bawah India meskipun angka kemiskinan dan jumlah populasi lebih tinggi daripada negara tersebut.

Diketahui, rata-rata pengeluaran pendidikan tinggi di Indonesia pada tahun 2020 sebesar 2.000 dollar AS. Sementara negara tertinggi pengeluarannya yakni Amerika dengan dana pengeluaran sebesar 23.000 dollar AS. Kemudian, diikuti oleh Tiongkok, Singapura, Hong Kong, Jepang, Malaysia, India, Indonesia, dan Filipina.

Kendati demikian, Nadiem optimis bahwa pendanaan perguruan tinggi di Indonesia mampu bersaing dengan beberapa negara lain. Hal ini ia yakini terutama dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga para pimpinan perguruan tinggi.

"Sebenarnya kita mampu. Tapi kita harus bergerak serentak termasuk dengan dukungan pemerintah untuk mendukung inisiatif ini biar kesadaran bapak ibu sebagai pimpinan tinggi agar fundraising di luar dari sektor pemerintahan atau langsung dari mahasiswa merupakan hal yang begitu penting." jelas Nadiem.

"Karena kita harus masih menekan memastikan bahwa harga entry point masuk ke dalam perguruan tinggi itu affordable (murah) untuk anak-anak kita. Jadi kita nggak bisa terus naikin UKT, kita harus mencari jalan lain. Karena anak-anak dan akses adalah salah satu hal yang terpenting," pungkasnya.

Baca Juga: Sri Mulyani Bangga Dana Abadi LPDP Tembus Rp 70,1 Triliun, Guru dan Dosen akan Kecipratan

Penulis : Nurul Fitriana Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU