> >

Hari Santri Nasional: Peran dan Tantangan Santri dalam Merawat Kesatuan

Advertorial | 25 Oktober 2021, 21:47 WIB
Ilustrasi Hari Santri Nasional, santri membaca kitab Al-Quran. (Sumber: Getty Images/DistinctiveImages)

“Karena santri dulu memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, maka santri juga bertanggung jawab untuk mempertahankan kemerdekaan ini agar bisa dinikmati. Kemudian, bagaimana agar hasil-hasil dari perjuangan para pendiri bangsa itu bisa dihayati dan diisi dengan sebaik-baiknya,” tegas Waryono.

Tantangan santri dan lembaga pendidikan

Lewat masa kemerdekaan, peran santri tetap dibutuhkan. Namun, adanya perkembangan zaman dan disrupsi yang memaksa penggunaan teknologi membuat tantangan santri berbeda.

Jika dulu para santri mengangkat senjata melawan penjajah, para santri saat ini mungkin harus menghadapi ujaran-ujaran kebencian, hoaks, dan ekstremisme di internet yang dapat memecah belah kesatuan.

Dari sisi undang-undang, menurut Waryono, seluruh satuan pendidikan di pesantren sudah diakui sama dengan yang lain. Pemerintah juga memfasilitasi agar para santri memiliki dan menerima akses yang sama dari negara.

Beberapa pesantren diketahui telah menguasai teknologi digital dan menggunakan sitem digital dalam pembelajaran.

“Pesantren itu lembaga yang paling adaptif. Sekarang banyak yang sistemnya digital, bahkan cara untuk memantau memantau pelajaran apa yang yang sudah dipelajari juga sudah digital,” ujar Waryono.

Baca Juga: BPIP Beri Pesan Ideologi Pancasila untuk Para Santri di Hari Santri Nasional 2021

Kendati demikian, tantangan masih dimiliki pesantren lain untuk menyeimbangkan pendidikan agama dengan keterampilan yang dapat mendukung para santri beradaptasi di tengah perkembangan masyarakat.

Dalam upaya mencapai resolusi tersebut, Kemenag saat ini tengah menjalankan Program Kemandirian Pesantren.

Program ini ditujukan untuk menguatkan kapasitas lembaga dan kapasitas fungsi pesantren yang dilihat memiliki potensi yang luar biasa dan memiliki ‘fitrah’ mandiri. Menurut Waryono, jumlah pesantren yang saat ini mencapai 33.890 memiliki potensi yang luar biasa jika dikelola dengan optimal.

“Pesantren ternyata memiliki potensi yang luar biasa, hanya karena perkembangan dan kompetisi global, seringkali skill-nya tidak terasah. Kemandirian ini kita coba kembalikan ke fitrahnya. Jadi kita ajarkan bagaimana teknologinya, bagaimana manajemennya, SDM-nya,” terang Waryono.

Selain peningkatan kemampuan, Karjono menambahkan bahwa penanaman nilai-nilai Pancasila di pendidikan formal, non formal, dan informal termasuk pesantren juga sangat dibutuhkan untuk menjaga ketahanan NKRI.

Dengan begitu, para santri yang telah menguasai teknologi dapat berkontribusi merawat nilai-nilai pancasila di ekosistem digital yang rawan dimasuki pesan-pesan perpecahan.

“Itulah gunanya perubahan Peraturan Presiden (Perpres) 57 Tahun 2021, di mana dulu hanya pendidikan dasar saja yang ada Pancasila. Sekarang diterapkan di semuanya (lembaga pendidikan). Ini sudah didukung kementerian lembaga terkait dan BPIP sedang menyiapkan buku ajarnya,” tutup Karjono.

Penulis : Elva-Rini

Sumber : Kompas TV


TERBARU