Kompas TV regional kesehatan

Prevalensi Stunting Lamban, Bonus Demografi 2045 Terancam Sia-sia

Kompas.tv - 17 Maret 2022, 02:30 WIB
prevalensi-stunting-lamban-bonus-demografi-2045-terancam-sia-sia
Foto ilustrasi stunting. Soal stunting dinilai akan mengancam bonus demografi Indonesia yang puncaknya pada tahun 2045. (Sumber: Kompas.com)
Penulis : Fransisca Natalia | Editor : Deni Muliya

MAKASSAR, KOMPAS.TV – Stunting dinilai akan mengancam bonus demografi Indonesia yang puncaknya pada tahun 2045.

Dengan kata lain, puncak bonus demografi di Indonesia pada 2045 terancam terbuang sia-sia jika target penurunan stunting belum tercapai.

Hal itu dikemukakakn oleh pakar ilmu gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof Dr Razak Thaha pada Rakerda Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Sulawesi Selatan 2022 di Makassar, Rabu (16/3/2022).

Bonus demografi merupakan suatu keadaan penduduk yang masuk dalam usia produktif jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif.

Dalam hal ini, menurut World Health Organization (WHO), masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap buruk jika prevalensi stunting lebih dari 20 persen.

Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis.

Baca Juga: Jangan Remehkan Dampak Jangka Panjang Stunting, Simak Penyebab dan Langkah Pencegahan

"Karena itu, program percepatan penurunan prevalensi stunting harus dikeroyok bersama-sama," ujar Razak, seperti dikutip dari Antara.

Ia pun mengakui, perkembangan penurunan angka prevalensi stunting di lapangan sangat lamban oleh karena sejumlah faktor.

Berdasarkan data Bappenas diketahui pada 2013 prevalensi stunting tercatat 37,20 persen. Lalu pada 2018 menjadi 30,80 persen.

Selanjutnya pada  2019 menjadi 27,70 persen dan pada 2021 diterbitkan Perpres Nomor 72 Tahun 2021 dengan pelimpahan tugas kepada BKKBN untuk menurunkan prevalensi stunting dengan target 24,40 persen pada 2024.

"Prevalensi stunting pada 2020 diprediksi 27 - 28 persen, sedangkan pada 2021 estimasinya 32,5 persen.  Sementara, untuk mencapai target nasional pada 2024, berarti masih harus menurunkan sekitar 12 persen dalam kurun sekitar dua tahun ke depan," sebutnya.

Hal itu dibenarkan Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel Andi Ritamariani.

Menurutnya, tantangan berat itu menjadi PR bagi BKKBN yang diamanahkan oleh pemerintah selaku koordinator.

Meski demikian, pihaknya tetap optimistis target itu dapat dicapai dengan dukungan semua pihak.



Sumber : Kompas TV/Antara


BERITA LAINNYA



Close Ads x