Kompas TV nasional humaniora

Jejak dan Harapan Garuda Muda (III): dari Pogacnick ke Shin Tae-Yong

Kompas.tv - 27 April 2024, 06:10 WIB
jejak-dan-harapan-garuda-muda-iii-dari-pogacnick-ke-shin-tae-yong
Pelatih Timnas Indonesia untuk Kualifikasi Olimpiade 1980 Frans van Balkom (kiri) berbincang dengan dua asistennya, Bertje Matulapelwa dan Hengky Heipon. Foto diambil pada 19 Maret 1980 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. (Sumber: Kompas.id)
Penulis : Iman Firdaus | Editor : Vyara Lestari

Pada awal Orde Baru, satu nama pelatih yang melegenda adalah Endang Witarsa (1966-1970). Bersama Timnas Indonesia, ia sudah melalui beberapa laga internasional. Pelatih yang akrab disapa Opa Endang itu sudah menggondol gelar Piala Raja (Bangkok/1968), Merdeka Games (Malaysia/1969), dan Aga Khan Cup (Bangladesh/1969). Selain itu, Endang Witarsa juga mendampingi timnas Garuda hingga babak perempat final di Asian Games 1966 dan 1970.

Pelatih lainnya yang terbilang sukses menangani Timnas Indonesia  adalah Sinyo Aliandoe dan Bertje Matulapelwa. Sinyo mendamping Timnas berjuang lolos ke Piala Dunia 1986 Meksiko.

Timnas Indonesia di tangan Sinyo melangkah ke babak kedua Zona B AFC Kualifikasi Piala Dunia 1986 setelah lolos dari penyisihan grup yang dihuni India, Thailand, dan Bangladesh. Namun, di putaran kedua zona Asia, Timnas menuai kekalahan 0-2 dan 1-4 dari Korea Selatan sehingga mengubur mimpi Indonesia mewakili Asia lolos dalam putaran final di Meksiko.

Adapun Bertje mampu mempersembahkan medali emas sepak bola di ajang SEA Games 1987 di Jakarta. Bartje juga terbilang sukses membawa timnas sepak bola hingga semifinal di ajang Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan. Di babak semifinal yang digelar di Stadion Olimpiade Seoul, Timnas dikalahkan tuan rumah Korsel dengan skor 0-4.


Pada akhir Orde Baru, peringkat Indonesia di FIFA meningkat di posisi ke-76 dari 208 total negara anggota FIFA. Selain faktor pelatih, faktor lainnya yang turut memengaruhi peningkatan pada masa Orde Baru itu adalah kompetisi dan pembinaan usia muda, penyatuan kompetisi Perserikatan dan Galatama melahirkan Liga Indonesia, serta masuknya pemain-pemain asing di Liga Indonesia sehingga membuat pemain lokal lebih berkembang.

Pada masa awal reformasi, skuad Garuda berhasil lolos ke putaran final Piala Asia 2000 di Lebanon setelah tak terkalahkan di babak kualifikasi. Namun, di putaran final Piala Asia 2000, Timnas Indonesia yang dilatih Nandar Iskandar gagal lolos dari fase grup karena kalah dari China dan Korea Selatan.

Pada era selanjutnya (2003-2011), prestasi Timnas terbilang meredup. Dua kali Timnas lolos di Piala Asia 2004 dan 2007, tetapi selalu gagal di babak awal. Bahkan, tahun 2011, Timnas gagal lolos di babak kualifikasi.

Pada era ini, Timnas pernah ditangani pelatih Peter Withe (2004-2007) dan Ivan Kolev (2007). Peter Withe mendampingi Timnas di ajang Piala Asia U-20 2004 dan hanya sampai di babak penyisihan grup. Sementara Ivan Kolev baru mampu mengantarkan timnas Garuda ke babak penyisihan grup Piala Asia 2007.

Selanjutnya, Timnas Indonesia dilatih Luis Milla dan Simon McMenemy. Selama menukangi timnas senior dan U-23, Luis Milla membawa timnas sepak bola U-23 Indonesia hingga babak 16 besar Asian Games 2018.

Sementara McMenemy yang mendampingi Timnas di Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia tak sekali pun mempersembahkan kemenangan. Dalam lima kali pertandingan di Grup G Zona Asia, Timnas Indonesia selalu kalah dan menempati dasar klasemen.

PSSI kemudian mengganti McMenemy pada November 2019 dan menunjuk Shin Tae-yong asal Korea Selatan. Shin Tae-yong diberi tugas melatih tim Indonesia U-20, U-23, dan senior.

Di level Asia, Shin Tae-yong membawa timnas senior hingga babak 16 besar Piala Asia Qatar 2023. Selain itu, Shin Tae-yong juga membawa Timnas U-23 melaju ke babak semifinal Piala Asia U-23 2024 dan diharapkan melenggang ke Olimpiade Paris Juli mendatang. Semoga!


 




Sumber : Kompas TV


BERITA LAINNYA



Close Ads x