Kompas TV nasional hukum

Dugaan Peretasan Situs KPU, Pakar Khawatir Data Digunakan untuk Kampanye Hitam dan Ubah Hasil Pemilu

Kompas.tv - 29 November 2023, 14:09 WIB
dugaan-peretasan-situs-kpu-pakar-khawatir-data-digunakan-untuk-kampanye-hitam-dan-ubah-hasil-pemilu
Ilustrasi peretas.  Ada sejumlah dampak yang bisa terjadi jika data pemilih tetap pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 bocor akibat peretasan, termasuk digunakan untuk black campaign. (Sumber: Shutterstock Via Kompas.com)
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana | Editor : Gading Persada

JAKARTA, KOMPAS.TV – Ada sejumlah dampak yang bisa terjadi jika data pemilih tetap pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 bocor akibat peretasan, termasuk digunakan untuk black campaign.

Penjelasan itu disampaikan oleh Pratama Persadha, Chairman CISSReC (Communication & Information System Security Research Center), Rabu (29/11/2023).

Pratama menjelakan hal itu sebagai tanggapan atas dugaan kebocoran data pemilih dari laman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI.

“KPU diretas lagi 204 juta Data pemilih tetap Pemilu 2024 bocor, peretas yang bernama Jimro berhasil Melakukan peretasan ke KPU dan memberikan sampai 400 ribu data, yang setelah kita verifikasi ternyata valid,” tuturnya dikutip dari laporan jurnalis KompasTV Fransisco Donasiano.

Bahkan, lanjut dia, data tentang kode TPS, kode kelurahan, kode NIK, serta nomor kartu keluarga (KK) tercantum lengkap.

Baca Juga: KPU Minta Bantuan Satgas Siber Telusuri Dugaan Kebocoran Data Pemilih, Pakar: Kemungkinan Phising

“Apa bahayanya kalau data ini bocor, data yang bocor ini ketika disalah gunakan bisa digunakan untuk black campaign negatif campaign,” jelasnya.

Data tersebut juga dapat disalahgunakan sebagai sumber data untuk pengiriman private campaign.

“Dijadikan sumber data pengiriman private campaign, seperti ketika tahun 2016 ada analitika di Amerika bagaimana orang per orang dikirimkan.”

Hal semacam itu, lanjut dia, jangan sampai terjadi di Indonesia.

Oleh sebab itu, penting bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk melakukan langkah-langkah antisipasi dan perbaikan.

“Penting KPU segera melakukan langkah langkah antisipasi, langkah-langkah perbaikan, bekerja sama dengan seluruh stakeholder,” tambahnya.

Ia juga mengkhawatirkan jika peretas mengubah data saat pemilu sudah dilaksanakan, dan hasilnya berbeda dengan penghitungan manual.

“Jika nanti di atas pada saat sudah terjadi proses pemilu pencoblosan suara, tidak terbayang kalau misalkan data yang disampaikan ke publik itu diubah oleh peretas, dan berbeda dengan perhitungan manual,” tuturnya.



Sumber : Kompas TV

BERITA LAINNYA



Close Ads x