Kompas TV nasional rumah pemilu

Elektabilitas Koalisi Perubahan Turun di Survei Litbang Kompas, Anies Diyakini Dapat Mendongkraknya

Kompas.tv - 23 Mei 2023, 13:25 WIB
elektabilitas-koalisi-perubahan-turun-di-survei-litbang-kompas-anies-diyakini-dapat-mendongkraknya
Jajaran Koalisi Perubahan saat membacakan piagam untuk mengusung Anies Baswedan sebagai capres di Jakarta, Jumat (24/3/2023). (Sumber: Istimewa)
Penulis : Fadel Prayoga | Editor : Iman Firdaus

JAKARTA, KOMPAS TV - Hasil survei Litbang Kompas teranyar menunjukkan tiga partai politik (parpol) Koalisi Perubahan untuk Persatuan mengalami penurunan elektabilitas. 

Ketiganya ialah Partai Nasdem, Demokrat dan PKS. Namun, ketiga parpol tersebut meyakini pengusungan Anies Baswedan sebagai bakal capres akan memberikan efek ekor jas kepada partai mereka. 

Wakil Ketua Umum Nasdem Ahmad Ali mengatakan, naik turunnya elektabilitas parpol dipengaruhi banyak faktor. 

Baca Juga: Survei Litbang Kompas: Faktor Jokowi Berpengaruh Tertinggi di PDIP, Terendah di Nasdem

Dalam beberapa bulan terakhir, pihaknya menyadari bahwa konsolidasi partai tidak bisa dilakukan secara optimal. Sebab, pihaknya sedan berkonsentrasi terhadap pendaftaran bakal calon anggota legislatif menyongsong Pileg 2024.

”Menghadapi pencalegan kemarin, energi kami habis di situ sehingga konsolitasi partai tidak berjalan secara optimal,” kata Ali seperti dikutip dari Kompas.id, Selasa (23/5/2023).

Menurut Ali, pencapaian elektabilitas Nasdem saat ini tidak bisa dilepaskan dari efek ekor jas yang didapatkan setelah mengusung mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai bakal capres. 

Terlebih, beberapa bulan setelah dideklarasikan sebagai bakal capres yang didukung Nasdem, Anies giat melakukan safari politik ke sejumlah daerah. 
Oleh karena itu, elektabilitas Nasdem berdasarkan survei Kompas pun melesat, dari 4,3 persen Oktober 2022 menjadi 7,3 persen pada Januari 2023.


 

Berbeda dengan bulan-bulan awal setelah deklarasi, sejak bulan Ramadhan yang dimulai akhir Maret hingga saat ini, Anies belum pernah lagi melakukan safari politik bersama dengan partai politik pendukungnya. 
 
”Seiring dengan itu, pasti akan terjadi konsekuensi terhadap elektabilitas Nasdem,” kata Ali.

”Jadi, kolaborasi antara parpol dan bakal capres itu menjadi keharusan yang harus dilakukan,” ujarnya.

Hal senada dikatakan, Ketua DPP PKS Ahmad Mabruri yang mengatakan, fluktuasi tingkat keterpilihan parpol adalah hal biasa selama penurunan tidak terjadi secara drastis. 

”Begitu juga pergerakan (bakal) capres yang diusung Koalisi Perubahan untuk Persatuan, Anies Baswedan, dirasakan belum optimal di periode Ramadhan dan Idul Fitri lalu,” kata Mabruri.

Baca Juga: Survei Litbang Kompas: PKS Belum Dapatkan Efek Ekor Jas dari Mengusung Anies di Pilpres 2024

Ia menjelaskan, pihaknya akan mengajak Anies untuk berkeliling agar partainya pun bisa merasakan dampak dari mengusung mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

”Awal bulan depan (Juni) rencana akan safari (Anies) dengan PKS di wilayah. Detailnya sedang disusun,” kata Mabruri.

Sementara itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrat Andi Arief melihat bahwa penurunan elektabilitas berdasarkan survei Kompas tidak hanya terjadi pada partainya, tetapi juga mayoritas parpol. 

Hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang cenderung stabil dan Partai Gerindra mengalami peningkatan.

Mengenai penurunan elektabilitas Demokrat, Andi mengaku, pihaknya masih mempelajari faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Sebab, pada Oktober 2022 keterpilihan Demokrat sempat mencapai 14 persen, kemudian turun jadi 8,7 persen pada Januari, dan 8 persen pada Mei. 

Sejauh ini, ada tiga penyebab yang disoroti Demokrat, mulai dari persoalan di struktur organisasi, isu politik, hingga persoalan di koalisi.

”Ini sedang kami pelajari karena penurunan ini pasti ada penyebabnya. Rasanya kami tidak banyak melakukan kesalahan kecuali memang koalisi belum terbentuk. Mungkin hipotesisnya soal koalisi,” kata Andi.

Ia menjelaskan, persoalan koalisi yang dimaksud terkait dengan belum adanya keputusan soal pasangan bakal capres dan cawapres yang akan diusung koalisinya.

”Kalau bulan Juni tidak ada deklarasi, akan sulit bagi anggota KPP. Artinya, kemungkinan opsi lain sudah harus dipikirkan,” ujarnya.

Seperti diketahui, survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 29 April-10 Mei 2023 menunjukkan penurunan Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan PKS. 

Survei terhadap 1.200 responden di 38 provinsi yang memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dan ambang batas kesalahan 2,38 persen ini menunjukkan, elektabilitas Nasdem 6,3 persen.

Baca Juga: Survei Litbang Kompas Terbaru: Golkar Paling Disukai, tapi Elektabilitasnya Disalip Demokrat 

Angka ini turun dari survei Januari yang tercatat 7,3 persen. Sementara itu, elektabilitas Demokrat yang mencapai 8 persen pada survei Mei juga turun dibandingkan survei sebelumnya, yakni 8,7 persen. Adapun PKS turun 1 persen, yakni dari 4,8 persen pada Januari jadi 3,8 persen pada Mei.
 



Sumber : Kompas.id


BERITA LAINNYA



Close Ads x