Kompas TV kolom opini

"Arch of Constantine"

Kompas.tv - 24 April 2024, 20:58 WIB
arch-of-constantine
Monumen Kemenangan “Arch of Constantine” (Sumber: Erik Sadewa)

Oleh Trias Kuncahyono

Hari itu, saya menemani empat sahabat dari Jakarta yang datang bersama rombongan para wartawan Indonesia mengunjungi Roma. Kami berdiri beberapa meter di depan monumen “Arch of Constantine”.

Diberi nama “Constantine”, karena memang dibangun untuk mengabadikan kemenangan Kaisar Constantine the Great atau Konstantinus Agung atas Kaisar Marcus Aurelius Valerius Maxentius pada 28 Oktober 312 dalam pertempuran di Jembatan Milvian.

Baca Juga: Kunjungi Rusia & Ukraina di Tengah Peperangan, Trias Kuncahyono : Keamanan Jokowi Pasti Dijamin

Dengan kemenangan itu, Kaisar Konstantinus menguasai seluruh Kekaisaran Romawi Barat. Lalu pada gilirannya menaklukan penguasa Romawi Timur, Kaisar Licinius. Maka, Konstantinus menjadi penguasa tunggal atas Kekaisaran Romawi. Ia lalu mendirikan kota Konstantinopel, sebagai pusat kekuasaannya.

Itulah sepenggal kisah yang bisa “dibaca” dari monumen kemenangan yang berdiri tegak beberapa puluh meter dari Colesseum. Sambil memerhatikan para wisatawan berfoto di depan monumen, kami mengagumi warisan sejarah setinggi 20 meter dan lebar 25 meter itu.

Meskipun sudah melintasi banyak zaman–diresmikan 25 Juli 315–monumen itu masih terlihat kokoh, megah, serta terpelihara. Dan, menjadi tujuan wisata (menurut catatan, tahun 2022, jumlah wisatawan yang mengunjungi Roma, 75 juta orang).

***

Monumen Kemenangan itu bagaikan buku sejarah yang berisi banyak catatan tentang masa lalu. Masa lalu yang tidak semua gemilang tapi juga buram; bahkan berlumuran darah dan beralaskan nyawa. Nyawa para prajurit yang menjadi pijakan Konstantinus untuk mewujudkan impiannya menjadi penguasa Kekaisaran Romawi.

Kekuasaan itu, berdarah-darah. Memang. Kekuasaan itu menuntut pengorbanan. Tetapi, siapa yang harus berkorban? Seharusnya orang yang akan menikmati kekuasaan itulah yang pertama-tama berani berkorban, bukan menuntut pengorbanan orang banyak untuk dirinya.

Tetapi, banyak kali bahkan biasa terjadi justru orang banyak lah yang menjadi korban, menjadi tumbal dari mereka yang haus dan lapar akan kekuasaan. Mereka yang haus dan lapar kekuasaan akan tega memangsa teman-temannya, tetangganya, anak buahnya, rakyatnya, bahkan mungkin anaknya sendiri.

Nafsu akan kekuasaan, memang ganas. Ketika nafsu akan kekuasaan merajalela dan menutup matahatinya, martabat dan kebebasan manusia diperlakukan dengan hina. Dihinakan demi kekuasaan.

Begitulah yang terjadi dari zaman ke zaman. Mengapa Kaisar Konstantinus menyingkirkan Kaisar Maxentius, misalnya? Kekuasaan! Pada masa Kekaisaran Romawi dikacaukan perang saudara, Konstantinus dan Maxentius berebut kekuasaan atas Italia.

Akhirnya 28 Oktober 312, Konstantinus mengalahkan Maxentius dalam Pertempuran Ponte Milvio (Jembatan Milvian) yang membentang di atas Sungai Tiber di luar kota Roma. Maxentius mati tenggelam di Sungai Tiber. Kemudian tubuhnya ditarik dari sungai, lalu kepalanya dipenggal dan diarak menyusuri jalan-jalan di Roma.




Sumber : Kompas TV


BERITA LAINNYA



Close Ads x