Kompas TV internasional kompas dunia

Kesaksian Tentara Israel yang Bertugas di Gaza: Saya Bosan, Jadi Saya Menembak

Kompas.tv - 10 Juli 2024, 17:43 WIB
kesaksian-tentara-israel-yang-bertugas-di-gaza-saya-bosan-jadi-saya-menembak
Tentara Israel berjalan di bagian selatan Jalur Gaza, Rabu (3/7/2024). Militer Israel mengundang reporter dalam tur ke Rafah, di mana Israel telah beroperasi sejak 6 Mei 2024. (Sumber: AP Photo/Ohad Zwigenberg)
Penulis : Edy A. Putra | Editor : Gading Persada

JAKARTA, KOMPAS.TV - Sebuah artikel yang diterbitkan majalah online Israel, +972 Magazine, mengungkap perilaku pasukan Israel di Gaza yang hampir tanpa batas. Mereka diperbolehkan melepaskan tembakan bahkan ke arah warga sipil.

+972 Magazine bersama media Israel lainnya, Local Call, mewawancarai enam tentara Israel yang telah selesai menjalani tugas di Gaza dalam beberapa bulan terakhir.

Testimoni mereka memperkuat kesaksian warga Palestina dan dokter-dokter di Gaza yang mengatakan tentara-tentara Israel menembak siapa saja termasuk warga sipil.

Keenam sumber +972 Magazine mengatakan mereka secara rutin mengeksekusi warga sipil Palestina hanya karena masuk dalam area yang ditetapkan militer Israel sebagai “zona yang tidak boleh dimasuki.”

Beberapa sumber mengatakan ketiadaan batasan untuk menembak membuat para tentara Israel menjadikannya sebagai cara untuk melepas penat.

Baca Juga: Israel Sudah 64 Hari Hentikan Arus Bantuan Masuk ke Gaza, Risiko Kematian akibat Kelaparan Meningkat

“Saya sendiri menembakkan beberapa peluru tanpa alasan, ke arah laut atau trotoar atau bangunan yang ditinggalkan. Mereka melaporkannya sebagai ‘tembakan normal,’ yang merupakan kode untuk ‘Saya bosan, jadi saya menembak,” tutur S, seorang tentara cadangan yang sempat bertugas di Gaza bagian utara.

+972 Magazine menulis, sejak tahun 1980-an, militer Israel menolak untuk mempublikasikan regulasi pelepasan tembakan.

Menurut pakar sosiologi politik, Yagil Levy, sejak Intifada kedua, “angkatan darat (Israel) tidak memberikan para prajuritnya aturan tertulis,” sehingga semua tergantung interpretasi tentara di lapangan dan komandan mereka.

“Ada kebebasan sepenuhnya dalam bertindak,” ungkap B, tentara yang bertugas sebagai pasukan reguler di Gaza selama berbulan-bulan, termasuk di pusat komando batalionnya.

“(Bahkan) jika ada perasaan ancaman, tidak perlu menjelaskan – Anda tinggal menembak.”

B mengatakan jika tentara melihat seseorang mendekat, “diperbolehkan untuk menembak di pusat massa (tubuh mereka), bukan ke udara.”

“Diperbolehkan untuk menembak siapa saja, bocah perempuan, perempuan tua,” katanya.

Baca Juga: Israel Kembali Mengebom Sekolah PBB di Gaza, Keluarga Palestina Dipaksa Mengungsi

Ia menuturkan sebuah insiden pada November tahun lalu saat tentara Israel membunuh belasan warga sipil selama proses evakuasi di sebuah sekolah di dekat kawasan Zeitoun di Kota Gaza yang menjadi tempat mengungsi warga Palestina.

Tentara Israel memerintahkan warga Palestina belok ke kiri menuju pantai, bukan ke kanan di mana militer Israel berada.

B mengatakan saat terjadi baku tembak di dalam sekolah, warga yang berlari tidak sesuai arah yang diminta, langsung ditembak.

"Beberapa berlari ke kiri menuju pantai, (tetapi) beberapa lari ke kanan, termasuk anak-anak. Semua yang belok ke kanan dibunuh – 15 sampai 20 orang. Ada tumpukan jenazah," tuturnya.



Sumber : +972 Magazine



BERITA LAINNYA



Close Ads x