Kompas TV internasional kompas dunia

Gerakan Islam Hijau Indonesia Jadi Perhatian, Masjid Istiqlal pun Diberi Penghargaan Bank Dunia

Kompas.tv - 18 April 2024, 07:46 WIB
gerakan-islam-hijau-indonesia-jadi-perhatian-masjid-istiqlal-pun-diberi-penghargaan-bank-dunia
Panel surya masjid Istiqlal bagian dari gerakan Islam Hijau yang makin gencar dimotori ulama untuk menjaga bumi dan lingkungan. Imam besar Nasaruddin Umar mengatakan dia ingin membantu mengubah 70 persen dari 800.000 masjid di Indonesia menjadi eco-masjid, atau masjid-masjid ekologis. (Sumber: New York Times)
Penulis : Edwin Shri Bimo | Editor : Iman Firdaus

JAKARTA, KOMPAS.TV – Para jamaah berkumpul di masjid Istiqlal, ribuan pria dengan kopiah dan perempuan dengan mukena duduk mendengarkan  Imam besar masjid Istiqlal Nasaruddin Umar naik ke mimbar dan memberikan ceramahnya dengan bahasa yang lembut namun tegas.  “Kesalahan fatal kita manusia adalah memperlakukan bumi hanya sebagai obyek,” kata Nasaruddin Umar. “Makin rakus kita atas alam, makin cepat kiamat datang,” ujarnya. 

Mantan wakil menteri agama itu, lalu menjelaskan ajaran Islam tentang perintah memelihara lingkungan yang sama dengan perintah menjalankan kewajiban agama seperti  berpuasa selama Ramadan atau  memberi sedekah. Seperti salat harian, menanam pohon pun harus menjadi kebiasaan.

Lingkungan adalah tema sentral dalam khotbah-khotbah Nasaruddin, Imam besar Masjid Istiqlal yang berpengaruh, di Jakarta, yang berusaha memimpin dengan contoh, seperti dilaporkan oleh New York Times, Rabu, (17/4/2024).

Terkejut oleh sampah yang mencemari sungai di samping masjid Istiqlal, dia memerintahkan untuk pembersihan total.

Selain itu, terkejut dengan tagihan utilitas yang sangat tinggi, Nasaruddin memerintahkan pemasangan panel surya, keran dengan aliran lambat, dan sistem daur ulang air di masjid terbesar di Asia Tenggara itu.

Masjid Istiqlal adalah bukti dari apa yang bisa dicapai gerakan Islam Hijau. Nasaruddin Umar mengatakan pemasangan 500 panel surya telah menurunkan tagihan listrik masjid itu sebesar 25 persen. Dengan keran aliran lambat dan sistem daur ulang air, jamaah menggunakan jauh lebih sedikit air untuk berwudhu sebelum melaksanakan sholat.

Perubahan itu membuat Masjid Istiqlal menjadi tempat ibadah pertama yang memenangkan penghargaan bangunan hijau dari Bank Dunia.

Ini adalah tempat ibadah pertama di dunia yang dianugerahi sertifikat bangunan hijau oleh International Finance Corp Bank Dunia. Imam besar Nasaruddin Umar mengatakan dia ingin membantu mengubah 70 persen dari 800.000 masjid di Indonesia menjadi “eco-masjid”, atau masjid-masjid ekologis.

Imam besar Nasaruddin Umar mengatakan dia hanya mengikuti instruksi Rasulullah Muhammad SAW bahwa umat Islam harus peduli terhadap alam.

Dia tidak sendirian di negara dengan lebih dari 230 juta penduduk, mayoritas dari mereka Muslim, dalam mencoba membangkitkan kesadaran lingkungan melalui ajaran Islam.

Baca Juga: RI Catat Proyek Potensial Rp490,59 T di AIPF, Energi Hijau dan Baterai Listrik Paling Laris

Jamaah masjid Istiqlal, tempat ibadah pertama di dunia yang dianugerahi sertifikat bangunan hijau oleh International Finance Corp Bank Dunia. Imam besar Nasaruddin Umar mengatakan dia ingin membantu mengubah 70 persen dari 800.000 masjid di Indonesia menjadi “eco-masjid”, atau masjid-masjid ekologis. (Sumber: New York Times)

Banyak ulama ulama terkemuka Indonesia telah mengeluarkan fatwa, tentang bagaimana meredam perubahan iklim. Aktivis lingkungan setempat merayu teman, keluarga, dan tetangga bahwa menjaga lingkungan hidup tertanam dalam Al Quran.

“Sebagai negara dengan jumlah umat Muslim terbesar di dunia, kita harus memberikan contoh baik bagi masyarakat Muslim,” kata Nasaruddin dalam sebuah wawancara.

Sementara negara-negara Muslim lainnya juga memiliki gerakan "Islam Hijau" seperti ini. Indonesia bisa menjadi panduan bagi seluruh dunia jika ingin bertransformasi.

New York Times juga melaporkan, sebagai pengekspor batubara terbesar di dunia, Indonesia merupakan salah satu penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. Ribuan hektar hutan hujannya ditebang untuk menghasilkan minyak kelapa sawit atau mencari mineral.

Kebakaran hutan dan banjir menjadi lebih intens, akibat dari cuaca ekstrem yang didorong oleh suhu yang lebih tinggi. Perubahan yang berlangsung adalah tugas yang berat.

Cadangan nikelnya yang besar, yang digunakan dalam baterai mobil listrik, adalah jalan menuju masa depan yang lebih bersih. Namun, pemrosesan nikel memerlukan pembakaran bahan bakar fosil.

Baca Juga: Lembaga Ini Sebut 97 Persen Anak Muda Pertimbangkan Isu Lingkungan Saat Pilih Calon Pemimpin

Hayu Prabowo, seorang ustadz yang juga aktivis lingkungan, menggerakkan penanaman pohon melalui dakwah dan nilai-nilai Islam dalam al-Quran dan Hadits. (Sumber: New York Times)

Masih banyak anggapan masyarakat bahkan tokoh agama bahwa  lingkungan sebagai hal yang terpisah dari agama. Dan survei menunjukkan adanya keyakinan luas di kalangan masyarakat Indonesia bahwa perubahan iklim tidak disebabkan oleh aktivitas manusia.

Hal ini menjadi tantangan untuk  mengedukasi Muslim Indonesia, kata para pendukung gerakan Islam Hijau, untuk dapat mendorong perubahan.




Sumber : New York Times


BERITA LAINNYA



Close Ads x