Kompas TV internasional kompas dunia

Studi Terbaru: Polusi Global Sebabkan 9 Juta Kematian per Tahun, Sama seperti Rokok

Sabtu, 21 Mei 2022 | 05:05 WIB
studi-terbaru-polusi-global-sebabkan-9-juta-kematian-per-tahun-sama-seperti-rokok
Ilustrasi. Polusi udara akibat lalu lintas kendaraan bermotor di New Delhi, India. Foto diambil pada 12 November 2019. Sebuah studi baru yang dimuat di jurnal The Lancet Planetary Health menyebut segala jenis polusi menyebabkan sembilan juta kematian per tahunnya. (Sumber: Manish Swarup/Associated Press)

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim | Editor : Vyara Lestari

WASHINGTON, KOMPAS.TV - Sebuah studi baru yang dimuat di jurnal The Lancet Planetary Health menyebut segala jenis polusi menyebabkan sembilan juta kematian per tahunnya. Studi ini menunjukkan angka kematian akibat polusi udara kendaraan dan industri naik hingga 55 persen sejak 2000.

Di lain sisi, kematian akibat polusi kompor tradisional dalam ruangan dan kontaminasi air oleh kotoran manusia dan binatang menurun.

Menurut studi yang mengggunakan basis data periode 2000-2019 ini, kematian akibat polusi terbanyak di dunia terjadi di India dan China, masing-masing hampir 2,4 juta dan 2,2 juta kematian per tahun.

Sementara itu, untuk tingkat kematian per populasi, Chad dan Republik Afrika Tengah berada di tempat teratas, masing-masing sekitar 300 kematian akibat polusi per 100.000 populasi. Lebih dari setengah kematian terkait polusi di kedua negara itu disebabkan konsumsi air yang tercemar.

Negara dengan rata-rata kematian akibat polusi per populasi terendah adalah Brunei Darussalam, Qatar, dan Islandia, antara 15 hingga 23 kematian per 100.000 populasi.

Baca Juga: Polusi Udara Masih Mengkhawatirkan, Warga Jakarta Disarankan Tidak Lepas Masker di Ruang Terbuka

Studi itu mengungkapkan, rata-rata kematian akibat polusi secara global adalah 117 kematian per 100.000 populasi. Polusi membunuh sama banyaknya orang per tahun dengan rokok, baik perokok aktif atau pasif.

“Sembilan juta kematian adalah jumlah kematian yang banyak,” kata Philip Landrigan, salah satu peneliti dalam studi tersebut sekaligus direktur program kesehatan masyarakat dan pemantauan polusi global di Boston College, Amerika Serikat (AS), sebagaimana dikutip Associated Press.

“Kabar buruknya adalah, itu tidak menurun. Kita semakin cakap dalam mengatasi tantangan mudah dan kesulitan menghadapi tantangan yang lebih sulit. Polusi udara dan polusi kimia masih meningkat,” lanjutnya.

Sementara itu, Lynn Goldmann, dekan fakultas kesehatan masyarakat Universitas George Washington menyampaikan bahwa angka kematian sebenarnya akibat polusi, lebih tinggi dari estimasi studi di atas.


Sumber : Associated Press

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Powered by



BERITA LAINNYA


Close Ads x