> >

Kisah Durori, Perajin Rebana yang Sudah Bergelut dengan Kayu dan Kulit Kambing Lebih dari 60 Tahun

Budaya | 18 Maret 2023, 13:24 WIB
Putra dari Durori, pemilik usaha rebana di Magelang, Jawa Tengah, sedang membubut kayu untuk dijadikan alat musik tabuh tersebut, Rabu (16/3/2023). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Selain memproduksi rebana, Durori yang kini dibantu oleh anaknya, juga membuat bedug. Namun, untuk bedug, ia membuatnya sesuai dengan pesanan.

Bedug buatan Durori berdiameter antara 70 hingga 90 sentimeter, dan menggunakan kulit lembu sebagai bahannya.

Durori juga menerima jasa servis atau perbaikan rebana. Biasanya perbaikan dilakukan dengan mengganti kulit yang rusak atau sobek.

Dari Mulut ke Mulut

Durori menceritakan, pada awalnya pemasaran rebana buatan ayah dan kakeknya hanya melalui mulut ke mulut.

Pemesan rebana yang merasa puas dengan suara yang dihasilkan, kemudian merekomendasikan kerajinan tersebut kepada orang lain.

Kini, rebana buatannya sudah memiliki cukup banyak pelanggan, mulai dari para kyai di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, sekolah, pondok pesantren, hingga kelompok pengajian.

“Pesenan itu dari pondok pesantren ada, dari mulut ke mulut. Pak kyai-pak kyai juga. Kelompok pengajian banyak juga.”

Dulu, sebelum tahun 2000-an, kata Durori, rebana kerap digunakan sebelum waktu buka puasa Ramadan tiba.

Para penabuh rebana biasanya memainkan tiga hingga empat lagu selawat sambil menunggu jemaah tiba di masjid.

Cucu Durori sedang mempraktikkan cara menabuh rebana di lokasi produksi rebana milik kakeknya di Salam, Kabupaten magelang, Jawa Tengah, Rabu (16/3/2023). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Nek (kalau) dulu, tahun-tahun sebelum 2000, kalau mau takjil, sebelum pengajian dimulai, sekadar memanggil orang-orang, pakai rebana dulu, dua atau tiga lagu, atau kalau jemaah sudah kebak (penuh) baru dimulai pengajian.”

Hingga beberapa tahun lalu, pesanan rebana selalu meningkat menjelang bulan suci Ramadan. Namun, tahun ini pesananya biasa saja.

Durori mematok rebana berdiameter 28 hingga 30 sentimeter dengan harga Rp400 ribuan. Menurutnya, itu cukup sepadan dengan proses pembuatan yang memakan waktu cukup lama.

Proses pembuatan satu unit rebana bisa memakan waktu hingga sepekan, bahkan bisa lebih lama lagi.

Dalam pembuatannya, Durori menggunakan kayu utuh yang kemudian dibubut hingga berbentuk bundar.

“Di sini itu bagusan ya, nggak seperti yang lainnya, di sini memang kayunya pilih yang bagus, yang utuh juga, jadi suaranya juga bagus.”

“Kayu masih hidup, ditebang, baru dibuat,” kata dia.

Selanjutnya, kayu rebana tersebut dilubangi bagian tengahnya, dan dihaluskan menggunakan amplas, lalu diwarnai dan dijemur.

Setelah proses penjemuran, pembuatan rebana dilanjutkan dengan proses pemasangan kulit. Proses ini terkadang harus diulang beberapa kali untuk menghasilkan suara yang nyaring.

Pada proses pemasangan kulit tersebut, Durori menggunakan alat khusus untuk menarik kulit kambing agar menegang.

Selanjutnya, kulit kambing yang sudah terpasang itu dibiarkan beberapa lama, lalu dipotong sesuai dengan diameter rebana.

Tak jarang kulit tersebut terlepas, sehingga ia harus memulai proses pemasangannya untuk menjaga kualitas suara yang dihasilkan.

Sebagai orang yang bisa menabuh rebana sekaligus berselawat, Durori menjajal langsung semua rebana buatannya.

Istri Durori menunjukkan sejumlah rebana hasil buatan suaminya di rumahnya di Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (16/3/2023). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Kulo nek nggawe mboten mung asal-asalan (Saya kalau bikin tidak asal-asalan). Kulo vokal saged, nuhuk juga saged (Saya bisa vokal dan bisa menabuh juga),” tuturnya.

Berbeda dengan pembuatan rebana, untuk memproduksi satu unit bedug, Durori membatasi ukuran pesanan karena menurut dia, mencari bahan baku kayu utuh dengan diameter besar sudah cukup sulit.

Demikian pula dengan mencari bahan baku kulit lembu untuk bedug berdiameter besar.

“Bedug juga buat, ukuran di sini 70 sampai 90 sentimeter. Kalau yang terlalu besar cari kayunya juga susah.”

 

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV


TERBARU