> >

Alasan Pencinta Keris se-Nusantara Inisiasi Perda Keris di Sumenep

Budaya | 18 September 2022, 03:05 WIB
Ketua Steering Committee (SC) Musyawarah Agung, Nurjianto (kiri) dan Ketua Organizing Committee (OC) Musyawarah Agung, Fendi Prayitna (kanan) dalam jumpa pers Musyawarah Agung Senapati Nusantara di Yogyakarta, Rabu (14/9/2022). (Sumber: Switzy Sabandar/KOMPAS.TV)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Musyawarah Agung Senapati (MAS) 2022 yang digelar di Yogyakarta menginisiasi lahirnya Peraturan Daerah (Perda) tentang keris.

Senapati Nusantara sebagai organisasi yang menaungi 73 organisasi pencinta keris di Indonesia menandatangani kerja sama dengan Kabupaten Sumenep dalam penyusunan Perda Rencana Strategis Pengembangan Keris, Sabtu (17/9/2022).

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Senapati Nusantara yang juga Ketua Umum MAS 2022 Nurjianto, selain mengawali peengajuan Hari Keris Nasional, organisasinya juga akan mengawal bupati Sumenep untuk membuat Sumenep menjadi Kota Keris.

“Hari ini kami menandatangani nota kesepahaman kerja sama penyusunan perda yang akan jadi pilot project dan bisa dicontoh daerah lain di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Usulan Penetapan Hari Keris Nasional, Para Tokoh Politik Indonesia Bakal Datang ke Yogyakarta

Melalui kerja sama ini pengembangkan ekosistem perkerisan akan dikembangkan dari sisi spiritual, pendidikan, art, sains metalurgi, seni kriya, serta elemen UMKM. Seperti yang diketahui Sumenep menjadi pengekspor keris terbesar di Indonesia dan memiliki 700-an empu dan perajin keris.

Ia menilai sosialisasi dan pemasaran keris masih periu dilakukan di satuan pendidikan. Terlebih, berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan keris.

“Pemasaran itu seperti bagaimana daerah memiliki anggaran untuk melakukan pameran secara rutin dan kerja sama dengan instansi lain seperti saat ini karya empu dan perajin di Sumenep mendapat banyak pesanan suvenir keris untuk acara G-20,” ucapnya.

 

Kerja sama ini juga ingin melakukan pendekatan terhadap aspek pelestarian yang erat kaitannya dengan perdagangan, seperti pemda bisa memfasilitasi pengiriman ke dalam dan ke luar negeri sehingga bisa ikut menjaga artefak-artefak, keris-keris tua untuk tidak lari ke luar negeri.

“Kalau satu dan dua sukses kan perdagangan bisa diganti dengan keris karya empu-empu masa kini sehingga artefak akan tetap di Indonesia,” tuturnya.

Baca Juga: Perajin Keris Ki Empu Sungkowo, Melipat Besi Melukis Pamor dalam Temaram

Ia mengungkapkan saat ini Indonesia membutuhkan museum keris, kurator, dan juga para penjaga gawang. Terkait pengiriman ke luar negeri selama ini menimbulkan persoalan karena lewat jalan belakang, sehingga lebih baik dibuat terbuka.

Penulis : Switzy Sabandar Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU