> >

Luncurkan Tim Tanggap Insiden Siber, Kemenkumham Tanggap Hadapi Perang Siber

Berita daerah | 14 Juni 2022, 16:49 WIB
Kakanwil Kememkumham Sumsel Harun Sulianto, Menyaksikan Peluncurkan KUMHAM-CSIRT atau Tim Tanggap Insiden Siber Kementerian Hukum dan HAM. (Sumber: Humas Kanwil Kemenkumham Sumsel)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Menyikapi perkembangan lingkungan strategis terkini dimana ancaman kejahatan siber, termasuk di dalamnya kejahatan penyalahgunaan data, membuat semua pihak harus siap siaga menghadapinya. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) berhasil menjadi salah satu dari 25 kementerian atau lembaga yang dipercaya untuk membentuk dan meluncurkan tim tanggap insiden siber atau Computer Security Incident Response Team (CSIRT).

Sekretaris Jenderal Komjen Pol. Andap Budi Revianto mengatakan, kita harus siap dan tanggap menghadapi perang siber, intoleransi, radikalisme, ancaman terorisme, serta menghadapi ancaman kejahatan lainnya, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

“Pemanfaatan teknologi yang merusak peradaban bangsa, sangat membahayakan persatuan, kesatuan, dan demokrasi. Hal tersebut harus dapat diatur secara terukur,” kata Andap usai meluncurkan KUMHAM-CSIRT atau Tim Tanggap Insiden Siber Kementerian Hukum dan HAM, Selasa (14/06/2022).

Sejalan dengan amanat Presiden Republik Indonesia pada saat HUT Kemerdekaan RI, kata Andap seluruh pihak harus siap siaga menghadapi ancaman kejahatan siber karena data adalah jenis kekayaan baru bangsa kita.

“Kedaulatan data harus diwujudkan, tidak boleh ada kompromi. Inti dari adanya regulasi adalah untuk melindungi kepentingan rakyat, serta melindungi kepentingan bangsa dan negara,” ujarnya di Graha Pengayoman Kemenkumham.

Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, terdapat serangan siber sebanyak 385.980 serangan atau rata-rata 2.150 serangan perharinya.

“Tujuan dibangunnya KUMHAM-CSIRT adalah untuk menangkis segala bentuk ancaman dan tantangan serangan siber di lingkungan Kemenkumham,” jelas Andap.

Ribuan serangan siber ini berasal dari dalam negeri dan luar negeri, serta menyasar website Kemenkumham, aplikasi persuratan internal, dan aplikasi kepegawaian. Dimana bentuk serangan terhadap website sebagian besar berupa Malicious Session sebanyak 71 persen, Server Side Code Injection (21%), Malicious Scan (6%), dan serangan berasal mayoritas USA sebesar 71 persen.

CSIRT merupakan organisasi atau tim yang bertanggung jawab untuk menerima, meninjau, dan menanggapi laporan dan aktivitas insiden keamanan siber. Beberapa fungsi dari CSIRT diantaranya adalah untuk memberikan layanan reaktif mulai dari koordinasi insiden, triase insiden, dan resolusi insiden.

Sementara dari Kanwil kemenkumham Sumsel turut menyaksikan secara virtual kegiatan tersebut yakni Kakanwil Kememkumham Sumsel Harun Sulianto, Kadivyankumham Parsaoran Simaibang, Kabag Program dan Humas, Gunawan, Kabid Hukum, Ave Maria Sihombing, Kasubbid Intelijen, I Gede Semarajaya, para JFT Pranata Komputer dan JFT Pranata Humas Kanwil Kemenkumham Sumsel.

Penulis : KompasTV-Palembang

Sumber : Kompas TV Palembang


TERBARU