> >

Tari Sufi, Pengingat Kematian Sarat Akan Cinta

Berita daerah | 20 April 2021, 17:41 WIB

SEMARANG, KOMPAS.TV - Tari ini terinspirasi dari seorang penyair sufi, Jalaluddin Rumi, yang mengekspresikan kesedihan atas kematian guru spiritualnya dengan berputar putar selama tiga hari tiga malam. Meski begitu, rumi mengungkapkan bahwa kematian bukan tentang lenyapnya jasmani, tapi pelarian menuju allah. 

 

Tari sufi dikenal sebagai whirling dhervises atau darwis yang berputar. Bukan sekedar tarian biasa, tari sufi disebut sebagai salah satu bentuk meditasi, yang mengungkapkan cinta kepada allah dan sesama.

 

Para penari sufi mengenakan topi tinggi bernama sikke yang melambangkan batu nisan, sedangkan jubahnya biasanya berwarna hitam melambangkan alam kubur dan baju putih yang melambangkan kain kafan. Gerakan dalam tarian sufi bukanlah gerakan sembarangan.

 

Pertama, penyanyi solo akan melantunkan lagu pujian untuk rasulullah diiringi musik khas timur tengah. Kemudian para penari akan saling membungkuk satu sama lain dengan kedua tangan disilangkan mencengkram pundak yang berarti kerendah hatian di hadapan tuhan. Kemudian tangan kanan menghadap ke atas yang berarti mendapatkan hidayah dari tuhan, dan tangan satunya menghadap ke bawah yang berarti hidayah tersebut harus disampaikan. Untuk melakukan gerakan berputar, kaki kiri digunakan sebagai tumpuan. Gerakan ini menyimbolkan bahwa segala sesuatu harus berputar sesuai jalurnya, dan menganggap seperti tawaf. Putaran dilakukan berlawanan dengan arah jarum jam.

 

Tari sufi kerap disebut sebagai tarian pengingat kematian karena filosofi atribut hingga gerakan yang menyimbolkan kematian. Bukan sekedar menari, selama melakukan gerakan berputar, penari terus berdzikir. Kunci agar tidak pusing adalah ketenangan dan fokus. 

 

Tari sufi nusantara sendiri tak hanya kerap mengisi acara keagamaan di masjid namun juga di gereja. Ini membuktikan bahwa tari sufi adalah salah satu bentuk toleransi yang menceritakan cinta allah kepada manusia dan harus disebarkan kepada sesama, tanpa memandang agama.

Penulis : KompasTV-Pekalongan

Sumber : Kompas TV


TERBARU