> >

Tarian Sufi, Pengingat Kematian Yang Sarat Akan Cinta

Berita daerah | 19 April 2021, 12:26 WIB

SEMARANG, KOMPAS.TV - Tari sufi, tarian asal Persia yang nampak misterius dengan gerakan berputar-putar dan tenur yang mengembang, ternyata memiliki filosofi yang mendalam mengenai kematian serta cinta kepada Tuhan dan sesama. Berawal dari ungkapan kesedihan, tari ini kini sudah mendunia.

Tari ini terinspirasi dari seorang penyair sufi, Jalaluddin Rumi yang mengekspresikan kesedihan atas kematian guru spiritualnya dengan berputar-putar selama 3 hari 3 malam. Meski begitu, Rumi mengungkapkan bahwa kematian bukan tentang lenyapnya jasmani, tapi pelarian menuju Allah. 

Tari sufi dikenal sebagai whirling dhervises atau darwis yang berputar. Bukan sekedar tarian biasa, tari sufi disebut sebagai salah satu bentuk meditasi yang mengungkapkan cinta kepada Allah dan sesama. Para penari sufi mengenakan topi tinggi bernama sikke yang melambangkan batu nisan, sedangkan jubahnya biasanya berwarna hitam melambangkan alam kubur dan baju putih yang melambangkan kain kafan. 

Gerakan dalam tarian sufi bukanlah gerakan sembarangan. Pertama, penyanyi solo akan melantunkan lagu pujian untuk Rasulullah diiringi musik khas Timur Tengah. Kemudian para penari akan saling membungkuk satu sama lain dengan kedua tangan disilangkan mencengkeram pundak yang berarti kerendah hatian di hadapan Tuhan. Sementara tangan kanan menghadap ke atas yang berarti mendapatkan hidayah dari Tuhan dan tangan satunya menghadap ke bawah yang berarti hidayah tersebut harus disampaikan.

Untuk melakukan gerakan berputar, kaki kiri digunakan sebagai tumpuan. Gerakan ini menyimbolkan bahwa segala sesuatu harus berputar sesuai jalurnya dan menganggap seperti thawaf. Putaran dilakukan berlawanan dengan arah jarum jam.

Tari sufi kerap disebut sebagai tarian pengingat kematian karena filosofi atribut hingga gerakan yang menyimbolkan kematian. Bukan sekedar menari, selama melakukan gerakan berputar, penari terus berdzikir. Kunci agar tidak pusing adalah ketenangan dan fokus.

Salah satu pelopor tari sufi nusantara, Budi Harjono mengungkapkan keindahan filosofi tari yang dipelajarinya sejak tahun 2009. Sejak saat itu, abah Budi menggunakan tari sufi sebagai media dakwahnya. Sudah 5.000 lebih penari sufi yang dilahirkannya, tak hanya di Indonesia namun hingga luar negeri.

Tari sufi nusantara sendiri tak hanya sering mengisi acara keagamaan di masjid namun juga di gereja. Ini membuktikan bahwa tari sufi adalah salah satu bentuk toleransi yang menceritakan cinta Allah kepada manusia dan harus disebarkan kepada sesama, tanpa memandang agama.
 

#TariSufi #Kematian #CintaKepadaAllah

 

Penulis : KompasTV-Jateng

Sumber : Kompas TV


TERBARU