> >

Gunung Merapi Siaga, "Sister Village" Mulai Menampung Pengungsi

Berita daerah | 13 November 2020, 11:07 WIB
Pengungsian Antisipasi Dampak Erupsi Gunung Merapi, Yogyakarta (Sumber: Humas BNPB)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan wilayah administrasi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah yang meningkat, mendorong Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menaikkan status aktivitas dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) pada 5 November 2020 lalu.

Menyikapi kondisi ini, BPBD di empat kabupaten, yakni Boyolali, Klaten, Magelang dan Sleman, telah mengevakuasi warga dengan prioritas kelompok rentan dari dusun-dusun yang direkomendasikan BPPTKG untuk dievakuasi ke tempat aman.

Para warga dari beberapa dusun tersebut ditampung di tempat evakuasi sementara (TES) dan tempat evakuasi akhir (TEA) dengan menerapkan protokol Kesehatan. Tempat penampungan ini telah dipersiapkan sebelumnya sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati bersama sejumlah desa atau disebut sister village.

Baca Juga: Pengungsi Merapi Dihibur Polisi dan Sukarelawan untuk Atasi Kejenuhan

Salah satu sister village berada di Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Wilayah ini menampung para warga dari Dusun Badadan I, Desa Paten. TEA di kompleks Kantor Desa Banyurojo ini juga dilengkapi dengan dapur umum lapangan, gudang logistik dan pos kesehatan.

Sekretaris Desa Banyurojo, Agus Firmansah menyebut, penerimaan warga di tempat evakuasi akhir ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

“Cuci tangan, mengukur suhu, cek rapid test secara bertahap semua para pengungsi. Di situ para pengungsi mengikuti dengan tertib dan memasuki ruangan yang telah dipersiapkan,” ujar Agus.

Baca Juga: Merapi Siaga, Warga Di Pengungsian Terus Bertambah

Sementara itu, tempat evakuasi sementara (TES) Desa Glagaharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta juga menerapkan hal serupa dalam menerima warga dari desa tetangga, Kali Tengah Lor. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto menyampaikan, jumlah pengungsi dalam barak disesuaikan dengan standar protokol kesehatan.

“Di dalam barak kita buat sekat-sekat untuk para pengungsi, tadinya barak cukup 350 jiwa sekarang hanya diisi 150 jiwa untuk memenuhi protokol kesehatan,” tambahnya, Kamis (12/11).

Penulis : Frisca-Clarissa

Sumber : Kompas TV


TERBARU