> >

Guru Besar UIN Jakarta: Politik Primordial Masih Mungkin Terjadi, Perlu Dialog Dialektis

Kampus | 21 Desember 2023, 01:00 WIB
Guru Besar UIN Jakarta Prof. J.M. Muslimin, M.A., Ph.D  (Sumber:Humas UIN Jakarta)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Politik primordial di Indonesia masih berpotensi muncul di tengah masyarakat. Hal ini disebabkan produk legislasi syariah yang beririsan dengan aspek keindonesiaan dan kemodernan cenderung membuka tafsir ambigu.

Karena itu dibutuhkan pengujian ulang terhadap literasi klasik dipadukan dengan dialog dialektis. 

Demikian disampaikan Prof. J.M. Muslimin, M.A., Ph.D dalam pidato pengukuhan guru besar bidang politik hukum Islam di UIN Syarif Hidayatullah dengan judul “Siyasah Syar’iyah Dialektis: Refleksi Pergumulan Ruang Publik dan Deideologisasi Hukum Islam Indonesia” di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, UIN Jakarta, Rabu (20/12/2023). 

Lulusan Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur ini membeberkan potensi perdebatan politik primordial yang ekstrem terbuka terjadi dalam praktik politik di Indonesia.

“Perdebatan politik primordial yang lebih fundamental dari adu wacana panas seperti saat Pilkada DKI Jakarta, sangat mungkin terjadi,” ujar lulusan Universitas Leiden, Belanda, dan Universitas Hamburg, Jerman itu.

Dia beralasan, potensi tersebut muncul lantaran produk legislasi syariah beririsan dengan aspek keindonesiaan dan modern yang cenderung membuka tafsir yang kabur termasuk terhadap tafsir tekstual syariah.

Dia menyebutkan kesepakatan awal tentang relasi syariah dan negara yang mewujud melalui Pancasila sebagai dasar negara, dalam batas tertentu bersifat modus vivendi.  

“Jadi dalam batas tertentu, Pancasila bersifat penyelesaian taktis di atas permukaan atau modus vivendi, yang  diikuti oleh produk regulasi lainnya,” ungkap Ketua Program Studi Program Doktor Pengkajian Islam di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta itu. 

Baca Juga: Khotbah Iduladha Guru Besar UIN Jakarta di Masjid At-Tin: Jaga Harmoni Sambut Pesta Demokrasi

Atas kondisi tersebut, JM Muslimin berpendapat dialektika ekstrem yang dipicu interpretasi regulasi yang berbasis kesyariahan di ruang publik berpotensi terjadi. Karena itu, ia menyebutkan pengujian kembali terhadap literasi klasik dalam perspektif Al-Qardhowi dan konsep dialog dialektis perspektif Habermas dapat menjadi jembatan kogniitf yang dapat memperkaya  perspektif seraya  mencari solusi yang berkelanjutan.  

Penulis : Iman Firdaus Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU