> >

Paguyuban Suporter: 1 Bulan Tragedi Kanjuruhan, KLB Tak Ada Artinya dengan Nyawa Hilang

Sepak bola | 1 November 2022, 13:00 WIB
Ilustrasi. Orang-orang memeriksa kumpulan foto korban tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang untuk mencari kerabat yang masih hilang, Minggu (2/10/2022). (Sumber: Dicky Bisinglasi/Associated Press)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI), Ignatius Indro menilai, sudah genap tepat 1 bulan Tragedi Kanjuruhan, tapi Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dianggap justru berusaha mengelak dari tanggung jawab. 

"Hari ini telah genap satu bulan Tragedi Kanjuruhan yang memakan 135 jiwa berlalu. Presiden Jokowi cepat bikin Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF), rekomendasinya juga untuk memperbaiki persepakbolaan di Indonesia. Bahkan bertemu langsung dengan Presiden FIFA," ujarnya saat dihubungi KOMPAS.TV Selasa (1/11/2022).  

"Namun anehnya, PSSI sebagai organisasi yang memiliki otoritas tertinggi tentang sepakbola di Indonesia seolah mengelak dari tanggung jawab," ujarnya.

Padahal, lanjut Indro, Tragedi Kanjuruhan  jelas kegagalan koordinasi yang dilakukan, termasuk oleh PSSI sebagai induk persepak bolaan Indonesia. 

 

"Apakah PSSI telah serius melakukan sosialisasi aturan FIFA tentang gas air mata, telah melakukan audit kelayakan stadion? Bagaimana pula dengan pelatihan pengamanan pertandingan, tentang edukasi suporter selama ini? Belum ada," ujarnya. 

Lantas, dalam catatan PSTI soal Tragedi Kanjuruhan, PSSI seolah bertindak seolah enggan disalahkan. 

Mulai dari pernyataan Ketua Umumnya Mochamad Iriawan atau Iwan Bule yang menyatakan tidak bertanggung jawab sampai menyerahkan tanggung jawab hanya kepada panitia pelaksana dan juga PT LIB semata.

"Baru di hari ke-12 ada pernyataan maaf, lalu tidak mengindahkan rekomendasi TGIPF agar seluruh pengurus dan Exco untuk mundur sebagai pertanggung jawaban moral, dan yang terakhir mengisyaratkan percepatan KLB," kata Indro. 

Untuk itulah, kata dia, seharusnya semua pengurus PSSI mundur dulu sebagai tanggung jawab moral kepada para korban Tragedi Kanjuruhan. 

"Kongres Luar Biasa (KLB) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) tidak akan ada artinya jika penyelenggaranya adalah orang-orang yang dikondisikan para pengurus lama atau status quo," katanya. 

Penulis : Dedik Priyanto Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU