> >

Ini Pertimbangan Pemerintah Masih Kaji Pemulangan Anak-anak ISIS Eks WNI

Berita kompas tv | 7 Maret 2020, 16:29 WIB
Massa tolak pemulangan ISIS bubuhkan tanda tangan dan cap darah di depan Istana Negara Senin (10/2/2020) (Sumber: KOMPASTV) 

JAKARTA, KOMPASTV – Pemerintah masih mengkaji wacana untuk memulangkan anak-anak dari keluarga eks WNI yang bergabung dengan ISIS.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan, Donny Gahral Adian menjelaskan pemerintah sebenarnya tidak akan menerima bekas WNI yang bergabung dengan ISIS. Termasuk keluarganya, sebab para kombatan tersebut telah memilih keluar dari Indonesia dan bergabung dengan ISIS.

Meski begitu, wacana untuk memulangkan anak-anak yang terlantar akibat pilihan idiologi orang tua tetap menjadi bahan pertimbangan. Termasuk apakah anak tersebut sudah terpapar idiologi ISIS.

Baca Juga: Tolak WNI Eks ISIS, Ini Jeritan Korban Serangan Teroris

"Artinya ada yang memang hanya ikut saja, ada yang punya kemungkinan juga sudah infiltrated by radical ideology. Ini yang betul-betul harus dipantau, karena betul-betul kita tidak ingin membawa masalah," kata Donny dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Sabtu (7/3/2020). 

Donny menilai pertimbangan pemerintah untuk tidak memulangkan anak-anak eks WNI yang bergabung dengan ISIS lantaran faktor seberapa besar anak tersebut terpapar idiologi ISIS. 

Indonesia, kata Donny, memang memiliki program deradikalisasi dan pemahaman idiologi Pancasila. Namun hal tersebut program jangaka panjang. 

Menurut Donny tidak ada yang bisa menjamin jika anak-anak ISIS kembali ke Indonesia, pendidikan yang diberikan orang tua mereka akan hilang begitu saja. Bisa saja mereka ternyata memiliki jaringan internasional yang mengancam keamanan negara.

Baca Juga: Eks ISIS Bisa Bikin Teroris Kapok - DUA ARAH (Bag1)

Pemerintah tak mau pertimbangan pemulangan anak-anak eks WNI yang bergabung ke ISIS hanya sebatas misi kemanusiaan, namun keamanan negara harus menjadi prioritas.

"Tapi percayalah pemerintah sedang menimbang secara serius juga, dengan alasan kemanusiaan bahwa mereka yatim piatu, terlantar tidak punya ayah dan ibu. Tapi harus dengan kewaspadaan, tidak menutup kemungkinan meski anak di bawah umur tetapi  bisa jadi timbul bibit-bibit terorisme yang membahayakan Indonesia," ujar Donny. 
 

Penulis : Johannes-Mangihot

Sumber : Kompas TV


TERBARU