> >

Mengenal KRI Tjiptadi-381, Pengusir Kapal China di Laut Natuna

Berita kompas tv | 4 Januari 2020, 11:47 WIB
Cuplikan gambar detik-detik KRI Tjiptadi-381 mengusir kapal pengawas perikanan pemerintah Tiongkok (Sumber: Kompas.TV)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Tensi diplomatik di Laut Natuna Utara belakangan memanas lantaran kapal ikan Tiongkok masuk wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Internasional (ZEE) Indonesia di utara Kepulauan Natuna.

Tidak sekali KRI Tjiptadi 381 menghadang kapal ikan asing yang melakukan aktivitas di perairan Natuna Utara.

Pada 30 Desember 2018, KRI Tjiptadi 381 mengusir kapal pengawas perikanan pemerintah Tiongkok dengan nomor lambung CCG 4301 dan kapal penangkap ikan negara Tirai Bambu untuk keluar dari ZEE Indonesia di Laut Natuna Utara. Sebelumnya KRI Tjiptadi 381 pernah mendapat provokasi dari kapal pengawas perikanan pemerintah Vietnam KN 264 dan KN 231 pada April 2018.

KRI Tjiptadi 381 merupakan armada di bawah jajaran komando utama TNI Angkatan Laut, Komando Armada (Koarmada) I. KRI Tjiptadi 381 adalah kapal jenis korvet kelas parchim yang digunakan sebagai kapal patroli. Indonesia memiliki 14 Kapal korvet kelas Parchim yang menjaga perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Dibeli dari Jerman Timur

KRI Tjiptadi 381 merupakan kapal buatan Jerman. Indonesia membeli kapal bekas Jerman Timur ini pada 1993. Kala itu, Indonesia membeli 39 kapal perang eks Jerman Timur, 16 diantaranya merupakan kapal korvet jenis Parchim.

KRI Tjiptadi 381 di desain untuk peperangan anti kapal selam di perairan dangkal atau pantai. TNI AL telah melakukan modifikasi agar dapat bertahan lebih lama berpatroli di laut lepas.

Kapal ini dinamai Tjiptadi, mengambil nama seorang kapten TNI AL yang gugur bersama Komodor Yos Sudarso pada Pertempuran Laut Aru di RI Matjan Tutul pada tanggal 15 Januari 1962.


Sistem Persenjataan dan Pertahanan

Kapal ini dilengkapi persenjataan seperti empat tabung peluncur torpedo 400 mm, dua peluncur rudal SA-N-5, rudal darat ke udara sebagai pertahanan terhadap pesawat, helikopter serta rudal anti-kapal yang menyerang.

Penulis : Johannes-Mangihot

Sumber : Kompas TV


TERBARU