> >

24 Januari 1916, Jenderal Soedirman Lahir, Tokoh Perang Gerilya yang Bersahaja dan Mati Muda

Sosok | 24 Januari 2023, 08:28 WIB
Patung Jenderal Soedirman di Jakarta (Sumber: Kompas.com-)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Nama Jenderal Soedirman adalah tokoh penting di balik perang gerilya di tanah air saat agresi militer Belanda II tahun 1948. Perang dengan cara memecah konsentrasi musuh ini dilakukan dengan cara menyusuri hutan dan kampung-kampung untuk melakukan perlawanan secara kecil-kecilan namun efektif meruntuhkan lawan.

Jenderal Soedirman yang kala itu sudah diangkat sebagai panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Yogyakarta, pada 27 Juni 1947, melakukannya bersama para prajurit sambil ditandu. Gambar dan potret sang jenderal besar yang sedang bergerilya sambil ditandu ini menjadi gambaran perang paling ikonik dalam sejarah militer di tanah air.

Baca Juga: Nobar Film Jenderal Soedirman di Hari Pahlawan

Dikutip dari laman resmi perpustakan nasional (perpusnas), dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkan Soediman untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan.

Namun, anjuran ini tidak diindahkan. Dalam keadaan sakit paru-paru parah, ia tetap bertekad ikut terjun bergerilya. Dalam keadaan sakit di usianya yang ke-31, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. "Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini," demikian penjelasan dari situs perpusnas. 

Jenderal Soedirman, salah satu orang yang memperoleh pangkat bintang lima selain Soeharto dan A.H Nasution. Jenderal Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Ayahnya bernama Karsid Kartawiuraji dan ibunya bernama Siyem. 

Namun ia lebih banyak tinggal bersama pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo setelah diadopsi. Ketika Sudirman pindah ke Cilacap di tahun 1916, ia bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah dan menjadi siswa yang rajin serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Baca Juga: Kisah Jenderal Soedirman, Panglima Besar Sekaligus Pendiri Klub Sepak Bola "Banteng Muda"

Paru-paru dan penyakit TBC yang menyerangnya membuat sang jenderal lemah selepas gerilya. Dia menghembuskan nafas terakhir  pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun, 29 Januari 1950.

Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah,  dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan. Di beberapa kota besar di Indonesia, nama Soedirman dijadikan nama jalan protokol. Di Jakarta, patung Jenderal Soedirman berdiri kokoh setinggi 12 meter dalam posisi menghormat, memakai mantel dan bertongkat.

Penulis : Iman Firdaus Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU