> >

Gus Yahya Blak-blakan Sulit Atasi Intoleransi di Indonesia: Harus Diatasi Secara Global

Agama | 13 Oktober 2022, 17:25 WIB
Ketum PBNU Gus Yahya dalam press conferens R20 di Jakarta, Rabu (7/9/2022) (Sumber: NU Online/Suwito)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Ketua Umum (Ketum) PBNU, KH Yahya C. Staquf atau Gus Yahya, membeberkan soal masalah intoleransi yang ada di sejumlah wilayah di Indonesia yang disebutnya terus datang lagi.

Ia mengaku, masalah intoleransi dan juga diskriminasi cukup sulit diatasi sendirian di dalam negeri saja. Mulai dari soal isu minoritas Ahmadiyah hingga Syiah, sampai persoalan terkini terkain penolakan pendirian gereja di Cilegon, Banten.

Gus Yahya pun menawarkan solusi, masalah intoleransi maupun diskriminasi ini agar diatasi bersama-sama komunitas dunia secara global. 

Ketum PBNU ini lantas menegaskan, isu terkait hubungan antar agama maupun intra agama dan segala gesekannya hingga terjadinya intoleransi maupun diskriminasi minoritas bukan hal baru. 

“Kita bergulat soal isu ini sudah lama. Sebetulnya berkali-kali menang, Cuma masalah itu kok datang lagi. Dulu ketemu DI-TII, bisa selesaikan, datang lagi. Komando Jihad, bisa selesaikan, Datang lagi,” papar Gus Yahya, Rabu (12/10/2022) dalam rekaman diskusi Editorial Meeting R20 (Religion Twenty) yang diterima KOMPAS.TV

“Kita ini punya budaya asli kita. Toleransi itu budaya asli. Ashli pake shod. Kenapa keyakinan itu, karena kita punya pengalaman panjang berabad-abad harmoni ditengah heteregon, sejak Sriwiaya hingga Majapahit,” imbuhnya.

Persoalannya, lanjut Gus Yahya, dunia masih dalam kondisi kacau. Ketika berhasil mengatasi masalah intolensisi dalam negeri, contohnya, dunia justru mengirimkan masalahnya yang serupa ke dalam negeri Indonesia. 

“Pergulatan untuk cari jalan keluar dari kereportan hadapi masalah hubungan antara agama, harus kita lakukan diatasi secara global, tidak cukup domestik,” imbuh Gus Yahya.

Namun hal itu bukan berarti harus menghentikan upaya Indonesia dalam mengampanyekan perdamaian di tingkat global.

Bahkan, ungkap Gus Yahya, Indonesia harus terus bergulat juga secara internasional.

Langkah ini tentu saja tanpa menafikan upaya mengharmonisasi hubungan persaudaraan antaragama sesama bangsa dalam negeri.

"Di samping tentu melakukan upaya dalam negeri, kita juga harus bergulat secara internasional," kata Gus Yahya.

Penulis : Dedik Priyanto Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU