> >

Banyak Bule Suka Telanjang di Tempat Suci di Bali, Ini Kata Pengamat

Viral | 27 Agustus 2022, 14:35 WIB
Ilustrasi bule telanjang. (Sumber: Kompas.com)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Kasus bule telanjang di tempat suci Bali kerap terulang dari tahun ke tahun. Terbaru, pada Mei lalu, seorang warga negara Rusia sampai dideportasi karena ketahuan telanjang di dekat pohon keramat berusia 700 tahun.

Peneliti agama Bali di Universitas Hindu Negeri Denpasar Bali, Ravinjay Kuckreja, memberikan penjelasan ihwal fenomena itu. Menurut Ravinjay, beberapa orang melakukannya demi konten belaka.

"Banyak dari mereka sepertinya adalah yang bergerak di bidang kesehatan atau aktor atau influencer yoga," kata Ravinjay via Kompas.com.

Sebulan sebelum kasus bule asal Rusia, ada aktor dan blogger kesehatan yang melakukan live streaming bugil di puncak Gunung Batur. Nasib warga negara Kanada itu akhirnya juga dideportasi.

Baca Juga: Tulang Belulang yang Ditemukan di Buleleng Bali Ternyata Lansia yang Hilang sejak 25 Juli

Menurut Ravinjay, yang menjadi masalah bukan soal bugil.

"Tapi telanjang di kuil dan tempat suci, itu yang sangat dilarang," terangnya.

"Biasanya, Anda harus masuk dengan sarung dan selempang untuk menutup tubuh bagian bawah. Ini pada dasarnya untuk menghormati roh atau dewa dan leluhur yang diyakini mendiami tempat-tempat seperti itu," kata Ravinjay.

Terlepas dari itu, fenomena kasus bertelanjang di lokasi suci ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia.

Seorang mantan pemandu wisata sekaligus penulis traveler, Ben Groundwater, menyebut turis bugil di tempat suci juga ada di Malaysia dan Kamboja.

Pada tahun 2000-an, ia menyebut "banyak perilaku buruk" dari para turis, termasuk "banyak bule telanjang di tempat-tempat yang tidak layak”.

Namun, menurutnya, saat itu aksi para bule bugil belum terekspos ke masyarakat, karena belum ada sosial media.

Terlepas dari itu, Ben membagi motif para bule beraksi telanjang jadi dua jenis. Pertama, bule yang kurang wawasan, alias "hanya turis biasa yang melakukan hal-hal gila dan konyol, ketika mereka bepergian dan hal-hal yang mungkin tidak sopan.”

Sementara jenis kedua adalah influencer yang "sangat fokus dan haus untuk mendulang perhatian dan lebih banyak pengikut. Apa yang mereka lakukan adalah untuk memberikan kesan kepada para pengikutnya (dan) demi konten”.

Baca Juga: WN Peru Tahanan Polda Bali Meninggal

 

 

Penulis : Rofi Ali Majid Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas.com


TERBARU