> >

Putri Gayatri, Kisah Cinta, Penyamaran dan Otak di Balik Kejayaan Kerajaan Majapahit

Budaya | 20 Agustus 2022, 09:45 WIB
Patung Putri Gayatri Rajapatni. Dalam catatan masa gemilang kerajaan Majapahit, tercantum nama Putri Gayatri. Nama lengkapnya, Dyah Dewi Gayatri Kumara Rajassa  (Sumber: istimewa)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Dalam catatan masa gemilang Kerajaan Majapahit, tercantum nama Putri Gayatri. Nama lengkapnya, Dyah Dewi Gayatri Kumara Rajassa yang hidup dalam abad ke-13 berasal dari Kerajaan Singasari di masa Kertanegara.

Gayatri adalah istri Raden Wijaya, raja pertama Majapahit (1293-1309). Karena itu dia pun diberi gelar Rajapatni alias pendamping raja.

Dari pasangan ini, lahir keturunan yang mewarisi kerajaan Majapahit, yaitu  Tribhuwana Tunggadewi dan Hayam Wuruk.

Kisah hidup Putri Gayatri sarat dengan intrik, pembunuhan dan pemberontakan yang terjadi dalam lingkungan kerajaan masa lalu.

Sejarawan dan mantan diplomat University of British Columbia, Kanada, Prof Paul Drake pernah menulis sosok Gayatri dalam bukunya, “Gayatri Rajapatni, Perempuan Di Balik Kejayaan Majapahit,” terbit pada 2012 silam. 

Salah satu yang terkenal adalah kala dia menyamar berada dalam lingkungan musuh.

Baca Juga: Tim BPCB Temukan Candi Kelir Peninggalan Kerajaan Majapahit

Peristiwa itu terjadi ketika istana Singasari diserang oleh pasukan Kediri sehingga menewaskan kedua orang tuanya. Gayatri yang  sedang asik belajar di kamar belakang luput dari pembantaian. 

Untuk menyamarkan dirinya Gayatri berganti nama menjadi Ratna Sutawan, menanggalkan baju kebesaran istana dan berpura-pura menjadi puteri pegawai rendahan keraton. 

Bersama Sodrakara pengasuhnya, mereka ikut diboyong ke Kediri menjadi tawanan dan ditempatkan di bangsal perempuan Keraton Kediri.

Sebelum meninggalkan istana, ia meminta ijin kepada Sodrakara agar diantarkan melihat jasad orang tuanya untuk memberi sembah terakhirnya.

Selama penyamaran, dia berhasil mendapat banyak informasi sekaligus menyusun strategi membangkitkan kerajaan peninggalan orang tuanya yang sudah hancur.

Penulis : Iman Firdaus Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV/berbagai sumber


TERBARU