> >

Peneliti BRIN Sebut Hilal Sore Ini Sangat Tipis, Penetapan Iduladha 2022 Bisa Berbeda

Agama | 29 Juni 2022, 18:52 WIB
Anggota Tim Unifikasi Hijriyah Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), dan Peneliti BRIN Profesor Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa kondisi bulan sore ini sangat tipis, sehingga akan menimbulkan perbedaan penetapan 1 Zulhijah 1443 Hijriyah. (Sumber: Tangkapan layar Bimas Islam Kemenag)

Kriteria baru MABIMS tersebut menggunakan kriteria optimalistik dan mengharuskan ada unsur yang perlu dipenuhi, di antaranya tinggi bulan 3 derajat serta elongasi (sudut antara bulan dan matahari dilihat dari bumi) 6,4 derajat.

"Hari ini tinggi bulan kurang dari tiga derajat, hilal terlalu rendah, masih sangat tipis sekali," jelas Prof. Thomas.

Ia menjelaskan, Muhammadiyah menggunakan acuan garis tanggal pada saat maghrib 29 Juni 2022. Di Indonesia, posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal.

"Tetapi kalau menggunakan kriteria baru MABIMS, belum memenuhi kriteria, artinya bulan terlalu tipis untuk mengalahkan cahaya syafak," terangnya.

Oleh karena itu, menurutnya, akan ada potensi perbedaan penentuan Hari Raya Iduladha tahun ini.

Muhammadiyah dengan hisab kriteria Wujudul Hilal menetapkan Iduladha pada 9 Juli 2022, sedangkan hisab yang menggunakan kriteria baru MABIMS berpeluang tidak berhasil rukyat pada 29 Juni.

"Oleh karena itu, Iduladha berpotensi (jatuh pada) 10 Juli 2022," kata Thomas.

Di Arab Saudi, imbuhnya, ada peluang hilal terlihat pada 29 Juni, maka kemungkinan Iduladha di Tanah Suci jatuh pada 9 Juli 2022.

Ia menjelaskan, penetapan tersebut tidak dapat disamakan secara global, karena waktu ibadah mestinya mengacu pada waktu wilayah lokal.

 

Penulis : Nadia Intan Fajarlie Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU