> >

Kuku Penyintas Covid-19 yang Konsumsi Favipiravir Menyala di Bawah Sinar UV, Ini Kata RSA UGM

Kesehatan | 9 Maret 2022, 15:40 WIB
Ilustrasi obat Covid-19. (Sumber: DW News)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Heboh di media sosial soal kuku penyintas Covid-19 yang mengonsumsi obat favipiravir, menyala saat disinari ultraviolet (UV).

Kabar ini pun direspons dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, dan Kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Anton Sony Wibowo.

Ia meminta masyarakat tidak langsung percaya dengan unggahan maupun pesan yang beredar terkait flouresensi pada kuku maupun rambut manusia karena mengonsumsi favipiravir.

“Masyarakat harus mencari dan memastikan informasi ke sumber yang resmi dan kredibel,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (9/3/2022).

Baca Juga: Presiden Jokowi Sidak Obat, Cari Oseltamivir, Favipiravir hingga Vitamin D3 ke Apotek di Bogor

Menurut Anton, secara klinis di rumah sakit belum pernah menemukan fenomena flouresensi atau terpancarnya sinar oleh suatu zat yang telah menyerap sinar atau radiasi elektromagnet lain pada kuku atau rambut manusia akibat mengonsumsi obat favipiravir.

Kendati demikian, ia tidak menampik ada satu laporan dari Ozunal dan Guder (2021), di salah satu jurnal dalam bentuk laporan kasus.

“Secara ilmiah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap kasus tersebut dengan metode yang lebih baik,” ucapnya.

Ia menilai, belum tentu semua informasi tersebut bisa diaplikasikan pada semua penyintas Covid-19 karena perlu penelitian lebih lanjut dan tidak menggeneralisasi.

Baca Juga: Penyintas Covid-19 Berisiko Tinggi Alami Gangguan Mental, dari Kecemasan hingga Penggunaan Narkoba

Penulis : Switzy Sabandar Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU