> >

NU dan Muhammadiyah Diminta Tegas soal Penundaan Pemilu, Jangan Kehilangan Nalar Kritisnya

Agama | 3 Maret 2022, 08:06 WIB
Soal ketegasan penundaan pemilu, PBNU dan PP Muhammadiyah diminta tegas (Sumber: NU Online)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Pengamat politik Universitas Paramadina A Khoirul Umam berharap agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyatakan sikap mereka secara tegas terkait wacana penundaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Hal itu diungkapkan Umam dalam diskusi bertajuk Wacana Penundaan Pemilu: Membaca Motif Ekonomi-Politik dan Dampaknya pada Demokrasi di Indonesia yang disiarkan di kanal YouTube Universitas Paramadina, dipantau dari Jakarta, Rabu

“Saya sangat berharap Islamic-based civil society (masyarakat sipil berbasis Islam, red.), khususnya PBNU dan Muhammadiyah itu sikapnya, statement-nya harus clear soal penundaan,” kata Khoirul dalam.

Khoirul mengatakan bahwa meskipun PBNU dan Muhammadiyah merupakan organisasi masyarakat, kedua organisasi tersebut memiliki dampak politik yang besar terhadap masyarakat Indonesia.

“Memiliki bobot politik yang besar,” ucap dia.

Baca Juga: Beda Sikap MUI, PBNU dan PP Muhammadiyah soal Tunda Pemilu yang Digulirkan Elite Parpol

PBNU dan Muhammadiyah sebagai Kekuatan Sipil

Umam lantas menjelaskan, dalam konteks penundaan Pemilu 2024, Khoirul berharap agar PBNU dan Muhammadiyah berikut dengan masyarakat sipil berbasis Islam lainnya dapat memainkan peran mereka secara optimal dalam menggerakkan masyarakat.

“Kalau misal memang kekuatan masyarakat sipil semakin terdiaspora, media terkooptasi oleh kekuatan-kekuatan pemilik modal, maka salah satunya yang bisa tetap diperkuat adalah masyarakat sipil berbasis Islam ini,” kata Khoirul.

Khoirul berharap agar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau yang kerap disapa Gus Yahya dapat memberi pernyataan sikap PBNU secara tegas, mengingat dampak PBNU yang cukup luas terhadap pembangunan dalam konteks pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel.

“Bisa menjadi pengimbang dari proses yang kurang seimbang,” kata Khoirul.

Penulis : Dedik Priyanto Editor : Fadhilah

Sumber : Kompas TV


TERBARU