> >

Saat Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batubara, Jokowi Sebut Ada yang Nyaman dengan Impor

Berita utama | 24 Januari 2022, 11:39 WIB
Presiden Joko Widodo saat Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batu Bara Menjadi Dimetil Eter, Kab. Muara Enim, (24/1/2022). (Sumber: Tangkapan Layar Youtube Setpres/ninuk)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Presiden Joko Widodo mengatakan ada pihak yang nyaman dengan impor padahal negara dan rakyat dirugikan.

Pernyataan itu disampaikan Presiden Jokowi saat Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batubara menjadi Dimetil Eter di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1/2022).

“Banyak memang, ini perintah sudah 6 tahun yang lalu saya sampaikan, tapi memang kita ini sudah berpuluh-puluh tahun nyaman dengan impor, ada yang nyaman dengan impor,” ucap Presiden Jokowi.

“Memang duduk di zona nyaman tuh paling enak, sudah rutinitas terus impor, impor, impor, impor, impor, enggak berpikir bahwa negara itu dirugikan, rakyat dirugikan karena enggak terbuka lapangan pekerjaan,” tambah Presiden Jokowi.

Baca Juga: Bahlil: Proyek Hilirisasi Batubara Jadi Dimetil Eter Full Investasi Amerika Senilai Rp33 Triliun

Oleh karena itu, Presiden mengapresiasi pernyataan Menteri Bahlil yang mengatakan proyek hilirisasi batubara akan membuka lapangan pekerjaan hingga 12 ribu.

“Kalau ada 5 investasi seperti yang ada di hadapan kita ini, 70.000 lapangan pekerjaan akan tercipta, itu yang langsung, yang tidak langsung biasanya dua sampai tiga kali lipat,” ucap Presiden Jokowi.

“Inilah kenapa saya ikuti terus, saya kejar terus, tadi juga sebelum masuk ke sini saya kumpulkan semua yang berkaitan dengan ini, untuk memastikan bahwa ini selesai sesuai yang disampaikan oleh Air Products dan juga tadi Menteri Investasi 30 bulan, jangan ada undur-undur lagi,” tambahnya.

Apalagi, lanjut Presiden, jika proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter sudah berproduksi bisa mengurangi subsidi dari APBN Rp7 triliun kurang lebih.

“Kalau semua elpiji nanti distop dan semuanya pindah ke DME, duit yang gede sekali Rp60-Rp70 triliun itu akan bisa dikurangi subsidinya dari APBN. Ini yang terus kita kejar,” ujarnya.

“Selain kita bisa memperbaiki neraca perdagangan kita karena enggak impor, kita bisa memperbaiki neraca transaksi berjalan kita karena kita enggak impor,” tambah Presiden Jokowi.

Baca Juga: Kunjungi Sumsel, Presiden Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batubara Hingga Serahkan BLT

Sebab, kata Presiden, impor elpiji Indonesia sangat besar atau mencapai Rp80 Triliun dari kebutuhan ratusan triliun.

“Rp80 triliun itu pun juga harus disubsidi untuk sampai ke masyarakat karena harganya sudah sangat tinggi sekali, subsidinya antara Rp60 sampai Rp70 triliun. Pertanyaan saya apakah ini mau kita terus terus kan?” kata Presiden.

“Yang untung negara lain, yang terbuka lapangan pekerjaan juga di negara lain, padahal kita memiliki bahan bakunya kita memiliki raw materialnya, yaitu batubara yang diubah menjadi DME,” tambahnya.

Penulis : Ninuk Cucu Suwanti Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV


TERBARU