> >

Sikapi COP26 Glasgow, Walhi: Perdagangan Karbon Solusi Palsu Atasi Krisis Iklim

Peristiwa | 1 November 2021, 09:15 WIB
Hutan papua yang dibabat untuk dijadikan perkebunan sawit. (Sumber: Greenpeace via Kompas.com)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut wacana perdagangan karbon dan karbon offset sebagai solusi palsu mengatasi krisi iklim.

Seperti diketahui, perdagangan karbon menjadi bagian dari pembahasan konferensi perubahan iklim COP26 yang akan digelar 1-2 November 2021 di Glasgow, Skotlandia.

Termasuk Indonesia menyatakan siap dengan semua infrastruktur kebijakan terkait perdagangan karbon tersebut.

Manajer Kampanye Iklim Walhi Yuyun Harmono berpendapat, penerapan karbon offset dalam mekanisme pasar dan perizinan alam menambah panjang rantai konflik dengan masyarakat. 

Sebab, kata dia, hal tersebut akan berujung pada perampasan tanah dan hutan secara sistemik dengan kedok hijau dan pemulihan iklim.

Yuyun menambahkan, Pemerintah Indonesia masih memiliki pilihan yang jauh lebih menguntungkan dibanding perdagangan karbon, seperti mendorong pendanaan iklim non-pasar. 

“Negara-negara maju harus memenuhi janji pembiayaan perubahan iklimnya, seperti Amerika yang berkomitmen memberikan pendanaan sebesar Rp.1.415 triliun setiap tahunnya,” kata Yuyun dilansir dari greenpeace.org, Senin (1/11/2021).

Baca Juga: KTT Iklim PBB atau COP26 Resmi Dibuka di Glasgow Skotlandia

Khalisah Khalid dari Greenpeace Indonesia mengatakan skema perdagangan karbon merupakan praktik greenwashing 

“Setiap perusahaan yang mengumumkan dana untuk melindungi hutan melalui skema carbon offset hanya melakukan greenwashing jika mereka tidak berkomitmen secara sungguh-sungguh untuk menurunkan emisi mereka,” kata Khalisah. 

Penulis : Hedi Basri Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV


TERBARU