> >

Mustafa Kemal Ataturk Bakal Jadi Nama Jalan di Jakarta, PKS dan MUI Protes Keras

Peristiwa | 18 Oktober 2021, 10:21 WIB
Pendiri dan presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk. (Sumber: ENCYCLOPEDIA BRITANNICA)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Rencana penggunaan nama Presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk, menjadi nama jalan di Jakarta menuai protes. 

Rencana ini disorot oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang meminta agar rencana ini dikaji ulang. PKS menyoroti sosok Ataturk yang kontroversial bagi dunia Islam. 

“Jika memang sangat merugikan dan menyakiti kaum muslimin, lebih baik dibatalkan pemberian nama jalan tersebut,” kata Ketua DPW PKS DKI Jakarta Khoirudin, Minggu (17/10/2021).

Anggota Komisi C DPRD DKI ini mengatakan jejak rekam sejarah Ataturk sangat merugikan kaum Muslimin dan peradaban manusia yang tidak menghargai Hak Asasi Manusia.

“Sangat diktator, dia juga membuat kebijakan mengubah masjid Hagia Sofia menjadi museum, mengganti azan berbahasa arab dengan bahasa lokal, melarang jilbab dipakai di sekolah, kantor-kantor yang bersifat kepemerintahan,” ujarnya.

Menurut Khoirudin, masih banyak pahlawan lain yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia untuk diabadikan menjadi jalan di Ibu Kota. 

Baca Juga: Mustafa Kemal Ataturk Bakal Nama Jalan di Jakarta, Ini Penjelasan Wagub DKI

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyoroti Ataturk sebagai seorang tokoh yang dianggap sudah mengacak-acak ajaran Islam. 

Menurut Anwar Abbas, banyak perbuatan Ataturk yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an dan Assunnah.

"Kalau pemerintah tetap akan mengabadikan namanya menjadi salah satu nama jalan di Ibu Kota Jakarta, hal itu jelas merupakan sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak arif, serta jelas-jelas akan menyakiti dan mengundang keresahan di kalangan umat Islam, yang itu jelas tidak kita harapkan." kata Anwar dalam keterangan tertulis, Minggu (17/10/2021).

Anwar juga menyebut Ataturk sesat dan mengatakan bahwa Ataturk adalah tokoh sekuler yang tak percaya ajaran Islam dapat membawa Turki menjadi negara maju. 

"Jadi Mustafa Kemal Ataturk ini adalah seorang tokoh, yang kalau dilihat dari fatwa MUI, adalah orang yang pemikirannya sesat dan menyesatkan. Oleh karena itu, kalau pemerintah Indonesia akan tetap menghormatinya dengan mengabadikan namanya menjadi nama salah satu jalan di Ibu Kota Jakarta, hal demikian jelas akan sangat-sangat menyakiti hati umat Islam," ujarnya. 

"Karena bagaimana mungkin sebuah negara yang bernama Indonesia, yang berdasarkan Pancasila, di mana sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, lalu pemerintahnya akan menghormati seorang tokoh yang sangat sekuler dan melecehkan agama Islam," kata Anwar Abbas.

Penulis : Hasya Nindita Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU