> >

Kepala BMKG Sebut 5 Wilayah Ini Berpotensi Alami Tsunami Nontektonik Tercepat

Peristiwa | 20 September 2021, 07:04 WIB
Ilustrasi Tsunami. (Sumber: Grid.id)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut sejumlah wilayah Indonesia yang berpotensi mengalami tsunami nontektonik.

Wilayah yang dimaksud Dwikorita adalah Selat Sunda, Kota Palu Sulawesi Tengah, Pulau Seram Maluku Tengah, juga beberapa titik di Wilayah Indonesia Tengah dan Timur, termasuk Pulau Lembata Nusa Tenggara Timur.

Kata dia, di wilayah-wilayah tersebut memiliki banyak gunung api laut, palung laut atau patahan darat yang melampar sampai ke laut, sehingga berpotensi mengakibatkan tsunami nontektonik atau Atypical. 

Seperti dilansir dari laman BMKG, tsunami nontektonik disebut juga dengan tsunami tercepat, datang dengan waktu gelombang tsunaminya 2 hingga 3 menit. Mendahului berbunyinya sirine peringatan dini.

Melihat yang lalu-lalu, Dwikorita mengatakan, bencana alam tsunami nontektonik yang menelan korban jiwa sangat besar dan pernah terjadi sekitar 8 kali.

Yaitu, Tsunami G. Gamkonora (1673), Tsunami G. Gamalama (1763), Tsunami G. Gamalama (1840), Tsunami Gunung Awu (1856), Tsunami Gunung Ruang (1871), Tsunami G. Krakatau (1883), Tsunami G. Rokatenda (1928), dan Tsunami Waiteba NTT akibat longsor tebing pantai (1979).

Baca Juga: Siaga Tsunami Pacitan 28 Meter yang Diestimasikan Tiba 29 Menit, Ini Saran BMKG

Oleh karena itu, pihaknya bersama Kementerian dan lembaga terkait, tengah melakukan penyempurnaan dan pengembangan lanjut Sistem Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami (InaTEWS).

Hal tersebut jadi krusial usai fenomena tsunami nontektonik yang terjadi beberapa kali di Indonesia akhir-akhir ini. Meskipun, berdasarkan pencatatan BMKG, lebih dari 90% tsunami diakibatkan oleh fenomena tektonik atau kegempaan.

Sehingga, lanjut Dwikorita, sistem peringatan dini yang terbangun dan beroperasi saat ini masih terbatas untuk peringatan dini tsunami tektonik yang dibangkitkan oleh gempa.

"Tsunami di Pandeglang, Selat Sunda, Banten yang terjadi tahun 2018 lalu adalah salah satu contoh tsunami nontektonik. Yang terjadi akibat longsor lereng gunung ke laut, yang dipicu erupsi Gunung Api Anak Krakatau, bukan karena gempa bumi," sebut Dwikorita pada laman resmi BMKG, dikutip pada Senin (20/9/2021).

Terbaru, tambahnya, adalah saat terjadinya gempa bumi magnitudo 6,1 di Pulau Seram Maluku Tengah.

Gempa yang terjadi pada 16 Juni lalu itu, juga mengakibatkan longsor lereng pantai sehingga berdampak tsunami dengan kenaikan muka air laut sekitar 50 cm.

"Umumnya gempa bumi dengan magnitudo 6.1 di laut dekat pantai belum mampu membangkitkan tsunami, namun ternyata mampu mengakibatkan longsor pantai ke laut pada lereng pantai dengan bathimetri curam, dan akhirnya memicu tsunami kecil," tambah Dwikorita.

Baca Juga: Antisipasi Potensi Tsunami 28 Meter, Ini Persiapan Mitigasi Bencana Pemkab Pacitan

Menurut Dwikorita, penyempurnaan dan inovasi yang dilakukan BMKG dalam sistem peringatan dini tsunami menjadi sebuah keharusan mengingat beberapa wilayah di Indonesia juga memiliki potensi serupa.

Kendati begitu, Dwikorita secara gamblang mengatakan, sampai saat ini belum ada negara yang memiliki sistem peringatan dini tsunami nontektonik yang andal, cepat, tepat, dan akurat.

Teknologi dan pemodelan tsunami yang ada kebanyakan berdasarkan perhitungan/analisis terhadap aktivitas tektonik atau kegempaan ( Earthquacke Centris). Hal Ini juga masih menjadi tantangan global.

BMKG bersama para ahli/pakar, serta akademisi kampus dan perguruan tinggi baik dari dalam dan luar negeri, terus berupaya berpacu dengan waktu untuk mengembangkan sistem peringatan dini tsunami nontektonik, yang berbasis kajian ilmiah dan keilmuan.

Dwikorita mangaku pihaknya rutin menggelar Focus Group Discussion bersama para ahli gempa dan tsunami dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga kajian ilmiah seperti LIPI dan BPPT. 

Tak hanya yang dalam negeri, mereka juga melakukan hal sama dengan pakar dari United States Geological Survey (USGS), GFZ Jerman, GNS Science New Zealand ataupun dengan para pakar dari Perguruan Tinggi/Lembaga Riset di Jepang, Australia, India, Inggris dan Amerika.

"Semoga sistem peringatan dini tsunami nontektonik bisa segera tercipta," imbuh Dwikorita.

Untuk diketahui, Dwikorita yang sejak 2019 lalu, dipercaya sebagai Chair Intergovernmental Coordination Group Indian OceanTsunami Warning and Mitigation System (ICG IOTWMS).

Dia bertanggung jawab memimpin Koordinasi Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi Tsunami di 28 Negara di sepanjang Pantai Samudra Hindia.

Baca Juga: Tak Hanya Pacitan, Ini 25 Kabupaten/Kota yang Paling Rawan Alami Tsunami Besar

Penulis : Hedi Basri Editor : Fadhilah

Sumber : Kompas TV/BMKG


TERBARU