> >

Kota Surabaya Terima Dosis Tiga Bagi Tenaga Kesehatan, Berikut 7 Fakta Vaksin Moderna

Kesehatan | 3 Agustus 2021, 11:46 WIB
Sejumlah personel menerima 500.000 dosis vaksin Covid-19 Moderna donasi dari Amerika Serikat di Bandara Internasional Paro di Bhutan, 12 Juli 2021. (Sumber: UNICEF via AP)

SURABAYA, KOMPAS.TV – Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Jawa Timur menyatakan pihaknya telah menerima pasokan vaksin Moderna yang diperuntukkan bagi tenaga kesehatan.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Febria Rachmanita, vaksin Moderna yang akan dijadikan sebagai suntikan dosis tiga bagi tenaga kesehatan, mulai diberikan pekan ini.

"Vaksin Moderna itu untuk tenaga kesehatan, rencananya (penyuntikan) pekan ini. Kami masih melakukan pendataan," kata Febria dilansir dari Antara, Selasa (3/8/2021).

Pemberian vaksin Moderna bagi tenaga kesehatan sebelumnya telah ditegaskan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Jumlahnya 1,5 juta dosis dari 4 juta dosis yang diperoleh dari Amerika Serikat.  

Baca Juga: Rentan Terpapar Covid-19, Kemenkes Izinkan Ibu Hamil Divaksinasi

"1,5 juta dosis kita kasihkan dulu, pertama kali untuk seluruh tenaga kesehatan sebagai single shot, satu suntikan booster ketiga," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Budi ingin vaksin Moderna tersebut benar-benar sampai ke tenaga kesehatan. 

Bicara tentang vaksin Moderna, ada 7 fakta mengenai vaksin ini. Berikut penjelasannya: 

1. Vaksin dengan Platform mRNA Pertama yang Disetujui di Indonesia

Vaksin Moderna dibuat dengan basis messenger RNA (mRNA) yang diproduksi oleh Moderna Incorportation Amerika Serikat. Vaksin dengan basis mRNA merupakan jenis baru yang memiliki kandungan berbeda dengan jenis vaksin lainnya.

Baca Juga: Perpanjang PPKM Level 4 Dinilai Sudah Tepat, Epidemiolog UI Minta Masyarakat Terus Disiplin Prokes

Umumnya, vaksin Covid-19 lain menggunakan virus yang dilemahkan atau bahkan dimatikan, namun vaksin mRNA mengandung materi genetik yang direkayasa menyerupai virus tertentu.

2. Standar Penyimpanan

Moderna yang merupakan vaksin berbasis mRNA memerlukan teknologi penyimpanan berbeda dari vaksin dengan platform inactivated virus. Vaksin ini membutuhkan tempat dengan suhu minus 20 derajat Celcius. Hal ini membuat vaksin Moderna harus didistribusikan melalui kontainer khusus untuk menjaga kualitas vaksin agar tetap terjaga.

3. Efikasi Vaksin

Berdasarkan uji klinik fase 3, dilansir dari laman Covid19.go.id, vaksin Moderna memiliki efikasi mencegah Covid-19 sebesar 94,1 persen pada usia 18 hingga kurang dari 65 tahun dan sebesar 86,4 persen pada kelompok usia 65 tahun ke atas.

4. Digunakan untuk Usia 18 Tahun ke Atas

Diberitakan Kompas TV sebelumnya, Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan bahwa vaksin Moderna hanya bisa digunakan untuk orang dengan usia 18 tahun ke atas.

Baca Juga: Menkes: Saya Mohon Vaksin Moderna untuk Nakes, Mereka Tentara yang Bertempur Sehari-Hari

“Vaksin Moderna belum bisa dipakai untuk anak karena masih tahap uji klinis. Tapi, untuk lansia bisa,” katanya.

5. Efek Samping Vaksinasi

Menurut pengujian BPOM, vaksin Moderna memiliki efek samping yang masih dalam batas toleransi sehingga aman digunakan.

Efek samping dari penggunaan vaksin Moderna antara lain nyeri otot dan sendi, nyeri pada area yang disuntik, sakit kepala, dan kelelahan.

Efek samping tersebut umumnya terjadi pasca vaksinasi tahap kedua di mana profil penerima vaksin hampir merata pada umur kurang dari 65 tahun dan lebih dari 65 tahun.

6. Aman Bagi yang Memiliki Penyakit Bawaan

Vaksin Moderna dapat digunakan pada orang yang mempunyai penyakit bawaan seperti jantung, diabetes, paru kronis, obesitas berat, penyakit liver, dan HIV.

Baca Juga: Indonesia Kembali Kedatangan 3,5 Juta Dosis Vaksin Moderna dari AS

7. Vaksin Moderna telah tersertifikasi WHO

Vaksin Covid-19 Moderna telah mendapatkan emergency use listing (EUL) dari organisasi kesehatan dunia WHO pada 30 April 2021 silam.

Dengan izin darurat ini diharapkan vaksin Moderna segera digunakan secara masif untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

Vaksin lain juga telah masuk ke daftar EUL oleh WHO seperti Pfizer, AstraZeneca, Sinopharm, Janssen, dan Sinovac.

 

Penulis : Nurul Fitriana Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV/Antara


TERBARU