> >

IAKMI Sebut Indonesia Belum Miliki Kebijakan Kuat Tangani Pandemi Covid-19

Kesehatan | 20 Juni 2021, 23:12 WIB
ilustrasi covid-19 (Sumber: kompas.com)

"Dalam 15 bulan testing dan tracing masih sekitar 100 ribu specimen rates, itu pun separuhnya sekitar 40% sampai 50% saja laboratorium untuk PCR yang dapat memberikan report harian dengan baik," jelas dia. 

"Ini menunjukkan gap antara kabupaten/kota di Indonesia begitu dalam dan tinggi, yang menyebabkan fenomena gunung es Covid-19," sambung Hermawan.

Tak hanya itu, dia juga menyinggung terkait program vaksinasi Covid-19 Indonesia yang dinilai terlalu ambisius.

Baca Juga: Hari Ini, 10 Juta Dosis Bahan Baku atau Bulk Vaksin Sinovac Tiba di Indonesia

Menurut pendapatnya, tidak mungkin vaksinasi Covid-19 ini dapat selesai dalam waktu belasan bulan seperti yang ditargetkan pemerintah. 

Mengingat laju vaksinasi di Indonesia masih lambat. Salah satu alasannya karena Indonesia bukan negara produsen vaksin Covid-19. 

"Bukti terpampang, betapa vaksinasi rate kita di bulan Juni ini ditargetkan kira-kira satu juta per hari, tapi jauh sekali sekarang ini kita masih 100-200 ribu. Vaksin bukan solusi jangka pendek. Kita berharap vaksin jadi public health initiative, tapi tentu bukan solusi saat ini," ujar Hermawan.

"Menjalankan kesehatan dan ekonomi berbarengan sangat mustahil. Maka kita perlu memutus salah satu sebagai prioritas dan harus ada extraordinary initiative atau extraordinary policy making
jika ingin memutus mata rantai Covid-19," papar dia.

Lebih lanjut dia menyarankan agar pemerintah dapat menggunakan cara negara mayoritas yang sudah melewati puncak kasus yakni dengan menggunakan optimum social restriction atau lockdown.

Penulis : Isnaya Helmi Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU