> >

Relawan Jokowi Mania: Kami Harap Kinerja Menteri Bisa Seimbangi Ekspektasi Presiden

Politik | 13 April 2021, 22:31 WIB
Presiden Joko Widodo (berdiri) didampingi Wapres Maruf Amin (keempat kanan) mengumumkan enam orang calon menteri baru di Kabinet Indonesia Maju Jilid 2 di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/12/2020). (Sumber: ANTARA FOTO/LAILY RACHEV)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Sukarelawan Jokowi Mania (Joman) Immanuel Ebenezer berharap pada reshuffle kabinet membuat kinerja menteri bisa menyeimbangi ekspektasi Presiden Jokowi.

Pernyataan ini ia ungkapkan sebagai kritik terhadap para menteri yang dianggap hanya menumpang kursi jabatan dan tidak memberikan kinerja yang sesuai dengan ekspektasi rakyat.

Sebagai pejabat negara, menurut Immanuel, para menteri yang telah ditunjuk Presiden harusnya memberikan kinerja yang sesuai dengan harapan masyarakat serta harus berada dalam satu visi yang sama dengan Presiden.

Baca Juga: Relawan Jokowi Sebut 5 Menteri Ini Layak Diganti, Kinerjanya Dinilai Ceroboh

“Semua menteri harus satu visi misi dengan Presiden. Artinya kalau sudah tidak satu visi misi dengan Presiden pilihannya mundur atau diganti,” kata Immanuel kepada Kompas TV, Selasa (13/4/2021).

Immanuel menyebut ada lima menteri yang layak diganti berdasarkan penilaian Joman terhadap track record kinerja mereka.

Yakni, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan A. Djalil, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Sementara itu, sekretaris fraksi Partai Nasdem DPR Saan Mustopa menanggapi kritik yang disampaikan oleh Immanuel Ebenezer adalah sesuatu hal yang biasa.

Dua orang menteri yang disebut Immanuel, Johnny Gerard Plate dan Syahrul Yasin Limpo, diketahui merupakan kader Partai Nasdem.

Saan menuturkan bahwa Johnny dan Syahrul sudah memberikan kinerja yang baik selama menjabat di kementerian. Ia menjelaskan, penilaian jelek yang muncul bisa jadi karena faktor bias popularity.

“Dalam survei biasanya ada bias popularitas. Bias popularitas itu menteri yang populer di masyarakat cenderung mendapatkan perhatian, plus dan minusnya. Tapi sebenarnya, ada menteri yang jarang ke publik tetapi memiliki kinerja yang memadai. Itu kurang terlihat publik sehingga popularitasnya kurang,” jelas Saan.

Baca Juga: Presiden Jokowi Segera Reshuffle Kabinet, Siapa Saja Menteri yang akan Dicopot?

Penulis : Baitur Rohman Editor : Fadhilah

Sumber : Kompas TV


TERBARU