> >

Mengenang Kisah Penangkapan Diponegoro dalam Lukisan Raden Saleh yang Masyhur

Budaya | 29 Maret 2021, 05:30 WIB
Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh (Sumber: Twitter keraton jogja)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Letnan Jenderal De Kock pada 28 Maret 1830, merupakan peristiwa kelam dalam sejarah perjuangan masyarakat Nusantara melepaskan diri dari penjajahan.

Peristiwa yang sudah terjadi 191 tahun silam itu,   telah menggerakan pelukis Raden Saleh (1811-1880) untuk mengabadikannya lewat sapuan kuas. Lukisan "Penangkapan Diponegoro" (Die Gefangenhame Diepo Negoro) kini  menjadi koleksi Negara  terpasang di dinding Ruang Pamer Utama Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta.   
 
Lukisan karya Raden Saleh tersebut merupakan sudut pandangan berbeda  atas lukisan dengan peristiwa yang sama yang dibuat oleh pelukis Belanda Nicolaas Pienemaan (1809-1860).

Pienemaan mengabadikan momen penangkapan Dipongoro sesuai pesanan De Kock, karena lukisan yang diberi judul "Menyerahnya Diponegoro kepada Letnan Jenderal De Kock, 28 Maret 1830," itu merupakan puja dan puji bagi kemenangan Wakil Gubernur Jenderal itu.

Baca Juga: Jokowi Terima Pusaka Pangeran Diponegoro dari Raja Belanda

Dalan lukisan karya Pienamaan, Diponegoro digambarkan tertunduk lesu dan De Kock tampil gagah dengan pakaian militer kebesarannya. Menurut Peter Carey dalam bukunya, "Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)" yang diterbitkan oleh Kompas Media Nusantara, disebutkan,  "Pienamaan membuat Diponegoro dan rombongannya terlihat benar-benar tertunduk. Semua terlihat memahami bahwa  tindakan tegas De Kock adalah demi memberi yang terbaik bagi orang Jawa dan bahwa ia tidak punya pilihan lain kecuali mengirim Pangeran ke luar Jawa."

Menurut Carey, dalam lukisan itu tidak tampak "penjajah yang kejam". Tetapi seorang gentleman yang terdidik dan beradab. Dalam lukisan Pienamaan, Diponegoro dilukis satu tangga lebih rendah dari De Kock. 

Namun, Raden Saleh membuatnya jauh berbeda. Lukisan ini,  yang  diberi judul dalam bahasa Jerman, "Ein Historiches Tableau, die Gefangennhame des Javanischen Hauptlings Diepo Negoro" atau "Lukisan Bersejarah, Penangkapan Pemimpin Jawa Diponegoro",  dipamerkan pertama kali pada 1857 di batavia.

Baca Juga: Napak Tilas Keris Diponegoro - SINGKAP

Dalam karya Raden Saleh, tampak para kepala opsir Belanda itu lebih besar dari tubuhnya. Sementara De Kock tampak seperti monster perempuan yang menjijikan. Waktu yang tergambarkan dalam lukisan itu adalah pagi hari, yang menggambarkan fajar yang akan menjadi penanda keruntuhan Kolonial di tanah air.

Dalam lukisan ini, Diponegoro berada dalam posisi sejajar dengan  De Kock. Raut wajah Diponegoro digambarkan bergitu berang, dan berada di titik tengah lukisan. Tangan kirinya melintang di pinggang, tangan kanannya menjulur menghibur seorang perempuan Jawa yang sedang menangis. Sementara Wajah De Kock dan tentara Belanda tampak kosong seolah menatap dari kejauhan.

Penulis : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU