> >

IDI Minta Pemerintah Lakukan PSBB Super Ketat Jika Angka Infeksi Covid-19 Tidak Kunjung Turun

Update corona | 1 Februari 2021, 15:29 WIB
Sebanyak 33,340 warga negara asing (WNA) masuk ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta pada masa pembatasan kedatangan WNA antara 1-25 Januari 2021, demikian pernyataan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta 26 Januari 2021 (Sumber: KOMPAS)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Slamet Budiarto, Wakil Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta pemerintah untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) super ketat jika jumlah infeksi Covid-19 tidak kunjung turun.

Slamet mengatakan bahwa solusi terakhir untuk menekan angka kasus Covid-19 di Indonesia adalah PSBB super ketat dengan menghentikan mobilisasi masyarakat.

“Jalan terakhir ya PSBB super ketat, mobilisasi masyarakat disetop,” ujarnya, seperti dikutip dari Kompas.com, Senin (1/2/2021).

Menurutnya PSBB super ketat merupakan jalan terakhir, mengingat vaksin untuk masyarakat Indonesia belum tersedia.

“Enggak ada jalan lagi, apa lagi jalannya? Vaksin belum tersedia,” imbuhnya.

Slamet juga menambahkan bahwa Covid-19 merupakan penyakit mobilitas, sehingga mobilitas masyarakat harus dihentikan agar angka kasus Covid-19 bisa turun.

“Ini kan penyakit kerumunan, penyakit mobilitas. Kalau itu (mobilitas) dihentikan, otomatis (jumlah penyebaran Covid-19) turun. Simpel-nya begitu,” lanjutnya.

Ia juga menyinggung soal tes PCR yang tidak bisa menjadi jaminan seseorang tertular Covid-19 selama perjalanan.

Hingga kini, PB IDI akan terus memantau dan mengevaluasi berlangsungnya Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tahap dua yang berlangsung pada 26 Januari hingga 8 Februari.

Jika PPKM tidak berhasil menurunkan angka infeksi Covid-19 berikut angka kematiannya, Slamet memberikan saran untuk memberlakukan PSBB ketat setidaknya selama satu bulan.

Penulis : Fiqih-Rahmawati

Sumber : Kompas TV


TERBARU