> >

Waspada, Ini 8 Makanan yang Harus Pantang Dikonsumsi PCOS

Kesehatan | 10 Januari 2024, 07:30 WIB
Ilustrasi - Perempuan dengan PCOS berisiko lebih tinggi untuk penyakit diabetes, tekanan darah tinggi dan kolesterol bersama dengan peningkatan prevalensi obesitas. (Sumber: Kompas.tv/Ant)

JAKARTA, KOMPAS.TV- PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome adalah gangguan keseimbangan hormon pada wanita. Akibatnya, tubuh wanita memproduksi lebih banyak hormon androgen atau hormon laki-laki.

Kondisi ini menyebabkan gejala PCOS berupa menstruasi tidak lancar, tumbuh rambut berlebih, dan berjerawat. Dikutip dari laman Mayo Clinic, studi juga menunjukkan 50 persen penderita PCOS memiliki berat badan tidak ideal atau obesitas. 

Penderita PCOS juga memiliki hormon insulin yang berlebih. Kadar insulin yang tidak normal berisiko menyebabkan resistansi insulin dan produksi hormon yang berlebih.

Baca Juga: Air Rebusan Ketumbar Manfaatnya untuk Cegah Penyakit Jantung hingga PCOS, Ini Cara Buatnya

PCOS tidak boleh diabaikan begitu saja, karena penderita berisiko terkena komplikasi penyakit seperti diabetes, jantung, tekanan darah tinggi, hingga kanker rahim. Meski hingga saat ini PCOS belum dapat disembuhkan, kondisi ini tetap dapat dikendalikan dengan diet dan pola hidup yang sehat.

Dikutip dari laman Healthline, salah satu cara untuk mengelola PCOS adalah dengan menerapkan pola makan yang sehat. Penderita PCOS perlu menghindari beberapa jenis makanan yang dapat memperburuk gejala kelainan ini.

Berikut makanan yang harus dihindari penderita PCOS.

1. Karbohidrat olahan

Penderita PCOS harus menghindari karbohidrat olahan. Pasalnya, karbohidrat olahan dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat.

Akibatnya, pelepasan ovarium pada rahim menjadi terganggu. Hal inilah yang membuat siklus haid penderita PCOS tidak teratur. 

Contoh karbohidrat olahan adalah roti putih, kue, kue kering, dan olahan tepung terigu.

2. Daging merah

Mengkonsumsi daging merah dalam jumlah banyak dapat menurunkan kadar hormon progesteron. Sementara itu, hormon ini diperlukan untuk mendorong kehamilan dan siklus menstruasi yang normal.

Penulis : Switzy Sabandar Editor : Gading-Persada

Sumber : Mayo Clinic, Healthline


TERBARU