> >

Renan, Bung Karno, dan Romo Ageng

Opini | 25 April 2020, 14:47 WIB
Ernest Renan (Sumber: Istimewa)

Kini kebersamaan  sebagai bangsa dan negara, yang sudah dibangun para Bapak Bangsa sedang diuji dengan adanya pandemi Covid-19. 

Di tengah ujian itu, muncul pertanyaan, apakah ingatan bersama atau ada yang menyebutnya sebagai ingatan kolektif tentang bagaimana bangsa ini “bersatu kata, bersatu kehendak, bersatu niat, bersatu tekad, dan bersatu cita-cita” untuk mendirikan satu negara, sudah hilang atau masih hidup dan masih kuat atau sebaliknya? 

Ingatan bersama atau ingatan kolektif, secara mudah dapat diartikan sebagai hubungan antara keadaan di masa sekarang, dan ingatan atas masa lalu. 

Memang ada yang mengatakan, “ah, semua itu adalah masa lalu.” Memang, ingatan bersama adalah ingatan akan masa lalu. Dan, itu berarti sudah berlalu. Benar,  sudah berlalu. 

Akan tetapi, harus diakui yang sudah berlalu itu  tetap hidup sebagai jejak-jejak peristiwa sejarah bangsa ini yang tidak boleh dilupakan atau dihapus begitu saja. Historia vero testis temporum, lux veritatis, vitae memoria, magistra vitae, et nuntia vetustatis, sejarah adalah saksi zaman, cahaya kebenaran, kenangan akan hidup, guru kehidupan, dan pesan dari masa lalu. 

Tetapi, harus diakui bahwa di saat kesatuan, kebersatuan, dan semangat kebangsaan ini tengah menghadapi tantangan berat dan sulit sekarang ini, tetap masih ada yang mencari untung sendiri, yang memanfaatkan situasi kegawatan untuk kepentingan diri atau kelompoknya, atau golongannya atau partainya. 

Mereka tidak menghargai daya-upaya berbagai pihak, berbagai kalangan, berbagai strata masyarakat yang terus berusaha menumbuhkan kebersatuan, kebersamaan dalam menghadapi situasi kritis. Mereka mengabaikan atau bahkan tidak mempedulikan aturan-aturan yang merupakan kebijakan politik pemerintah untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran karena meluasnya pandemi Covid-19. 

Bahkan, mereka berusaha mencari-cari kesalahan, kelemahan pihak lain—terutama pemerintah—dan meneriakkan keras-keras, bukan sebaliknya, mendukung untuk bersama-sama mengatasi persoalan. Mereka lupa bahwa seperti pepatah mengatakan, bonum quod est supprimitur, numquam extinguitur, apa yang baik bisa ditekan tetapi tidak akan lenyap.

Setelah mengatakan itu, Romo Ageng diam. Ia memejamkan matanya. Menarik napas panjang. Lalu, ia berdiri dari tempat duduknya. Melangkah pelan-pelan sambil menundukkan kepala, menuju ke sebuah kamar khusus. 

Romo Ageng pernah bercerita bahwa di kamar itulah, menurut bahasanya, ia “menghilangkah aku untuk menemukan Sang AKU.” 

Persis sebelum memasuki kamar itu, samar-samar Romo Ageng, berguman sangat lirih seperti berbisik pada diri sendiri, “Sun réwangi apati geni, manjing in Alas Ketangga,” aku rela untuk tidak makan tidak minum, masuk dan mendengarkan getaran hati dan jiwa; untuk mencari Sang AKU. 

Seperti Renan dan Bung Karno yang meyakini, syaratanya bangsa adalah le desir d’etre ensemble, Romo Ageng juga yakin bahwa Sang AKU, setiap waktu akan hadir.

Hadir dan mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan bangsa ini, yang sudah berjuang keras “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara”, Memelihara Kedamaian Bumi, Memberantas Angkara Murka” dalam segala macam bentuk dan rupanya.

Tulisan ini telah tayang di Triaskun.id pada 24 April 2020. Selengkapnya bisa dibaca di sini

Penulis : Tito-Dirhantoro

Sumber : Kompas TV


TERBARU