> >

Nyanyian Para Rahib dan Rubiah

Opini | 7 Januari 2024, 17:00 WIB
Para rahib dan rubia di kiri-kanan altar Gereja Vincentius dan Anastasius (Sumber: Erick via triaskredensialnews.com)

Oleh: Trias Kuncahyono

PARA rahib dan rubiah–pertapa perempuan–itu menyanyikan doa berbahasa Latin secara bergantian. Suara mereka terdengar begitu indah sekaligus terasa mistis.
Nada suara mereka yang lembut, cenderung pianissimo, menyusup sudut-sudut gereja tua tempat mereka berdoa. Bahkan cenderung mengetuk-ketuk hati.

De profundis clamavi ad te, Domine; (Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan);
Domine, exaudi vocem meam. Fiant aures tuæ intendentes in vocem deprecationis meæ (Tuhan, dengarkanlah suaraku!   Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku).

Mereka tidak sekadar bernyanyi, tidak sekadar bersuara indah untuk menghibur hati. Tapi, membangun suatu komunikasi iman yang dihayati melalui keindahan nada, syair, irama, dan tentu selaras dengan jiwa liturgi.

Kata Santo Agustinus, “Qui bene cantat bis orat”; yang bernyanyi dengan baik berdoa dua kali. Jadi bermusik, bernyanyi dalam ibadah bertujuan untuk memperdalam sikap batin pada Allah.

Apalagi, kata St Yohanes Krisostomus (dari Turki, meninggal tahun 407), Allah sendiri menambahkan melodi pada kata-kata para nabi agar manusia yang disukacitakan dengan keindahan dari lagu itu menyanyikan madah bagi-Nya dengan sukacita.

***

Di tempat inilah Rasul Santo Paulus dipenggal kepalanya (Sumber: Erick via triaskredensialnews.com)

Suasana seperti itu menguasai gereja yang dibangun atas perintah Paus Honorius I (meninggal tahun 638): Gereja Santo Vincentius dan Anastasius. Gereja yang dibangun pada tahun 626 itu berbahan bata merah berlangit-langit tinggi itu temaram.

Apalagi cahaya matahari tak leluasa masuk ruang Gereja Santo Vincentius dan Anastasius. Cahaya hanya lewat kaca-kaca di dinding berlukiskan Bunda Maria yang begitu indah dan di atap persis di atas altar.

Suasana temaram itu mendorong hasrat manusia untuk mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan; membangun suasana lahir dan batin untuk mencapai ketenangan abadi.

Di pertapaan itu, suasana seperti itu terus dipelihara. Ini suatu cara untuk memelihara kesucian diri, ibadah, menjalani kehidupan dengan sederhana, hingga sikap rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bijaksana.

Maka suasana magis itu mendatangkan keheningan. Kata penyair mistikus agung Spanyol Santo Yohanes dari Salib (1542–1591), Allah itu “la musica callada, la soledad sonora“; musik yang hening, dan keheningan yang nyaring.

Allah itu hening terhadap kemampuan-kemampuan insani, akan tetapi nyaring terhadap kemampuan-kemampuan rohani. Karena itu, tak seorang yang mencintai Tuhan yang tidak ingin bernyanyi di hadapan-Nya dan bagi-Nya dalam keheningan.

Sejumlah peziarah, lebih dari 20 orang laki-laki dan perempuan, ada pula anak-anak mengikuti ibadah siang itu, yang dimulai pukul 12.15 dengan penuh khidmat. Ibadah hanya 10 menit.

Meski hanya 10 menit, tapi suasana keheningan, magis terbawa keluar gereja. .

Penulis : Redaksi Kompas TV Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU