> >

Acta Est Fabula

Opini | 10 November 2023, 00:30 WIB
Kaisar Octavianus (Sumber: en.m.wikipedia.org)

Oleh: Trias Kuncahyono

YANG masih kami ingat dari pentas wayang kulit di Teatro Palladium Roma, beberapa waktu lalu adalah reaksi penonton setelah pagelaran selesai. Mereka memberikan apreasiasi tinggi yang membuat kami sangat berbagga memiliki budaya yang adiluhung itu.

Begitu “tancep kayon”–dalang menancapkan gunungan tegak lurus di tengah pakeliran (layar) pertanda pertunjukan wayang telah selesai–dan para niyaga mengakhiri “nabuh” gamelan, mereka bertepuk tangan.

Penonton bertepuk tangan riuh. Keras. Panjang. Mereka berdiri. Tidak hanya berdiri, tetapi lalu ramai-ramai naik ke panggung untuk melihat dari dekat wayang-wayang itu. Mereka memegangnya; mencoba memainkannya. Menabuh gamelan. Bertanya ini-itu tentang wayang. Dan, berfoto di depan kelir, layar; berfoto sambil memegang wayang.

“Lo specttacolo e arrivito alla fine,” kata mereka. Pentas sudah berakhir. Maka itu, applaudite! tepuk tanganlah. Wayangan dengan lakon “La Missione Di Anoman”, telah selesai.

***

Topeng-topeng (Sumber: depositphoto.com)

Ucapan penonton itu mengingatkan pada ucapan senada yang disampaikan Kaisar Gaius Julius Caesar Octavianus atau Kaisar Octavianus (63 SM – 14 M), lebih dari 2000 tahun silam.

Kata sejarawan Romawi, Gaius Suetonius Tranquiĺlus (62 – 122) sebelum menghembuskan napas terakhir Octavianus mengatakan hal itu.

Oh iya, Octavianus yang memerintah 27 SM – 14 M adalah kaisar Romawi pertama, setelah berakhirnya Republik Romawi (509 – 27 SM). Republik Romawi dihancurkan oleh Julius Caesar yang kemudian menjadi penguasa tunggal Romawi, bahkan diktator. Caesar adalah paman buyut sekaligus ayah angkat Octavianus.

Setelah Caesar dibunuh Brutus dan kawan-kawannya (44 SM), muncullah triumvirat. Tindakan Brutus dan kawan-kawannya itulah memunculkan kisah pengkhianatan. Bahkan,  Dante Alighieri dalam Inferno salah satu dari tiga bagian–dua lainnya adalah Purgatorio dan Paradiso–The Divine Comedy (La Divina Commedia atau La Commedia) bahkan menyebut mereka sebagai pengkhianat terbesar dalam sejarah manusia.

Kalau menurut versi Brutus dan kawan-kawannya, mereka bertindak atas nama negara; menyelamatkan negara dari ancaman diktator Caesar. Sebuah alasan klasik: “atas nama negara” atau “atas nama rakyat”. Seakan dengan “mengatas-namakan negara” atau “mengatas-namakan rakyat”, lantas bisa berbuat apa saja tak peduli aturan, paugeran.

Meskipun dalam perjalanan sejarah umat manusia selalu muncul pengkhianat-pengkhianat baru dengan alasan-alasan baru pula. Sepertinya, setiap zaman melahirkan pengkhianat baru. Dan pengertiannya pun berkembang; alasan pengkhianatanyapun makin beragam.

Sementara anggota triumvirat itu adalah Mark Antony, Marcus Aemilius Lepidus, dan Octavianus. Persekutuan ini bubar, setelah Octavianus yang ingin menggenggam seluruh kekuasaan di tangannya, memerangi Antony di Mesir (kisah Cleopatra) dan memenangi perang Actium (2 September 31 SM), sebelah barat pantai Yunani sekarang ini. Lepidus juga disingkirkan Octavianus, yang akhirnya menjadi penguasa tunggal.

Penulis : Redaksi-Kompas-TV

Sumber : Kompas TV


TERBARU