> >

Buka Puasa Bersama

Opini | 19 April 2023, 07:10 WIB
Undangan buka puasa di rumah Rektor UIII Komaruddin Hidayat, di Ciputat, Tangerang Selatan. (Sumber: Dok Triaskredensialnews.com)

Budaya populer ini bertujuan sebagai bentuk kebiasaan hidup yang berulang (habitus) dan diterima secara kolektif sebagai bentuk kebiasaan umum. Maka sufisme yang semula berada di ranah privat kemudian berkembang menjadi populer dan diwujudkan dalam simbol-simbol lahiriah. Misalnya, dalam cara berpakaian atau berpenampilan.

Tetapi, tidak demikian dengan Caknurian Urban Sufism with Komarrudin. Sufisme membantu kita untuk bisa mengontrol hati supaya tidak cinta dunia berlebih-lebih. Gaya hidup modern banyak menjerumuskan orang pada sikap materialistis dan hedonistis. Kita tentu lebih membutuhkan sufisme sebagai sistem yang membantu mengelola hati.

Kata Komaruddin, sekarang ini, masyarakat urban cenderung rasional dan eklektik karena pergaulannya yang lintas budaya dan agama. Itulah sebabnya, urban sufism yang digawanginya pun sifatnya inklusif. Artinya, yang mengikuti kegiatan, baik sebagai peserta maupun pembicara, tidak hanya orang-orang Muslim. Misalnya hari Minggu sore kemarin yang ikut diskusi jelang buka puasa: Muslim dan Katolik.

***

Caknurian Urban Sufism with Komaruddin menjadi forum diskusi tematik dengan menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, disiplin ilmu, latar belakang agama, dan baik dalam maupun luar negeri. (Sumber: Dok Triaskredensialnews.com)

Maka–meskipun mungkin ada yang berpendapat terasa berlebihan–buka puasa sore di Ciputat kemarin, mengingatkan saya akan Pertemuan Abu Dhabi antara Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Mesir Sheik Ahmad Muhammad al-Tayyib, 2019.

Memang, pertemuan kemarin sangat “tidak sebanding dengan pertemuan Abu Dhabi”, sebuah pertemuan yang diharapkan menyadarkan dan membuka pikiran serta mata hati orang-orang berkeadaban bahwa umat manusia apa pun latar-belakangnya adalah saudara. Meskipun “sangat tidak sebanding”, tetapi, semangat pertemuan kemarin selaras dengan semangat Pertemuan Abu Dhabi: Semangat Persaudaraan.

Pertemuan Abu Dhabi yang menghasilkan dokumen berjudul A Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together–Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama–mendesak semua orang yang beriman kepada Tuhan dan kepada persaudaraan manusia untuk bersatu dan bekerja sama.

Dengan demikian, dokumen tersebut menjadi panduan bagi generasi kini, mendatang untuk memajukan budaya saling menghormati dalam kesadaran akan anugerah Tuhan yang agung yang menjadikan semua manusia bersaudara. Kalaupun tidak saudara seiman, ya saudara sebagai sesama warga bangsa dan saudara sesama umat manusia.

Maka buka puasa di Ciputat kemarin–walaupun dalam lingkup kecil–adalah bagian dari usaha untuk meningkatkan dan memperkokoh persaudaraan sesama warga bangsa (ukhuwah wathaniyah) dan persaudaraan/persatuan sesama umat manusia (ukhuwah basyariah).

Lingkup kecil, memang. Tetapi, semua bermula dari yang kecil, lingkup kecil. Kata pepatah, perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah. Jangan remehkan satu langkah jika ingin mencapai banyak langkah ke depan. Banyak hal besar berawal dari hal kecil. Ada tertulis, yang setia pada perkara kecil, akan setia pula pada perkara besar.

Dan, sebuah persaudaraan sejati, yang lahir dari niat dan hati yang tulus serta terbuka, tidak bisa terjadi begitu saja. Tetapi, membutuhkan waktu, kejujuran, saling terbuka, saling percaya, saling memahami, dan niat yang sepenuh hati untuk membangun sebuah kehidupan yang aman dan damai, inklusif, saling hormat menghormati dengan lebih mengedepankan persamaan ketimbang perbedaan.

Dengan kata lain tidak seperti dongeng Bandung Bandawasa yang membangun Candi Sewu Prambanan dalam tempo semalam. Tidak! Tetapi, membutuhkan proses yang harus secara penuh kesadaran disemai, dirawat, dipelihara, dijaga, dan dipupuk bersama-sama agar tumbuh, hidup, berkembang, dan berbuah. Dan, buahnya pun banyak.

Mungkin, hal itu terasa seperti ngayawara di tengah masih adanya kelompok-kelompok, komunitas, anggota masyarakat, bahkan tokoh masyarakat, tokoh pendidik, tokoh perguruan tinggi, dan politik yang berusaha mematikan benih-benih atau tunas-tunas  persaudaraan, yang sebenarnya merupakan jati diri bangsa ini…. Tetapi, hanya dengan merawat, memelihara, serta menjaga persaudaraan sebagai sesama orang beriman, sebagai sesama anak bangsa, negeri ini akan lestari…

 

Penulis : Redaksi-Kompas-TV

Sumber : Kompas TV


TERBARU