> >

Dua Tahun Covid di RI, Cerita Mereka yang Tertular Varian Delta hingga Omicron

Catatan jurnalis | 2 Maret 2022, 07:05 WIB
Ilustrasi isolasi mandiri (Sumber: FREEPIK via Kompas.com)

Oleh: Desy Afrianti

Jarum jam menunjukkan pukul 1 siang ketika saya berupaya memejamkan mata. Kepala sakit luar biasa, sekujur tubuh remuk. Berbalut selimut, meringkuk menggigil kedinginan. Berharap segera terlelap.

Itu adalah hari kedua saya terinfeksi virus corona, akhir Januari lalu. 

Sungguh bukan sakit yang mudah meski telah dua kali divaksin. Entah dari mana masuknya virus, yang jelas ini kebobolan. Dua tahun berusaha menutup rapat akhirnya kebagian giliran.

Sepanjang siang itu hanya terbaring di tempat tidur. Tubuh lunglai tak mampu menopang, duduk pun sulit. Tetapi Suster Rufina selalu mengingatkan untuk tetap berpikir positif dan semangat. 

Rufina adalah suster Puskesmas yang ditugaskan memantau saya dan keluarga selama isoman. Suster Rufina selalu sigap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikirim lewat WA, bahkan ketika dia sedang cuti.

Berdasarkan keluhan dan gejala yang saya alami, Suster Rufina meresepkan antivirus. Obat Favipiravir itu diminum hingga hari kelima. 

Serangan dahsyat virus corona saya alami selama satu hari. Di hari berikutnya pegal-pegal masih terasa tapi tidak dominan. Pusing mulai hilang serta demam sedikit reda. 

Tapi muncul keluhan lain, tenggorokan sakit dan batuk-pilek. Minum banyak air putih, konsumsi buah-buahan jadi senjata untuk melawan gejala lain Covid itu. Kebetulan indra perasa masih berfungsi normal, begitu pun penciuman.

Baca Juga: Tips Meredakan Sakit Tenggorokan Akibat Gejala Omicron Agar Sembuh dengan Cepat

Hari keempat dan seterusnya kondisi kian membaik. Bahkan di hari kelima bisa mengikuti meeting online redaksi. 

Kondisi menakutkan telah terlewati, kemungkinan tubuh telah berhasil membangun antibodi melawan Covid-19.

Bisa jadi virus yang menyerang ini varian Omicron-yang disebut memiliki gejala tak seberat Delta. Memang tidak bisa dipastikan, namun Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan sebagian besar kasus positif di Indonesia saat ini didominasi varian Omicron.

Pada Senin 7 Februari 2022 saya sudah aktif bekerja secara WFH. Namun sisa-sisa virus corona tampaknya masih bersemayam. Batuk-batuk belum juga reda meski telah memasuki hari ke 10 isoman, terutama di pagi hari.

“Oh bisa karena udara dingin ya bu pagi-pagi, minum hangat ya,” tulis Suster Rufina membalas pesan. Beberapa hari kemudian batuk mulai hilang. Tepat hari ke 15 Suster Rufina menghubungi kembali dan menyatakan bahwa status saya telah lepas pantau karena sudah tidak ada lagi keluhan, dinyatakan sembuh.

Serangan Varian Delta

Hari ini (2/3/2022), tepat dua tahun kasus Covid ditemukan di Indonesia. Dua tahun didera pandemi, dua varian menghantam Indonesia, Delta dan Omicron.

Varian Delta mengamuk di Indonesia pertengahan tahun lalu. Varian dengan nama lain B.1.617.2 ini mengakibatkan lonjakan kasus antara Juni hingga Agustus. Ketika itu sistem kesehatan nyaris lumpuh. Mulai dari ketersediaan oksigen, keterisian tempat tidur rumah sakit hingga tenaga kesehatan bertumbangan.

2021 menjadi tahun berduka bagi Indonesia. Ribuan nyawa melayang dalam 24 jam. Saban hari masjid-masjid menyiarkan berita kematian. Raungan ambulans memecah kebisingan deru kendaraan di jalanan. Horor.

Positif Covid Saat Hamil 9 Bulan 

Sabtu siang itu matahari bersinar sempurna di langit Jakarta Timur. Cahayanya berebut masuk ke dalam sebuah rumah mungil berlantai dua melalui celah-celah jendela. 

Baca Juga: Ini Daftar Terbaru Wilayah PPKM Jawa-Bali, Jakarta Masih Level 3

Di ruang keluarga duduk ibu hamil yang tengah sibuk menciumi ujung botol minyak kayu putih. "Kenapa tidak ada baunya ya, apa hidungku yang salah?" katanya bergumam dalam hati. Dia lantas meminta suaminya untuk ikut mencium cairan kayu putih itu dan ternyata bisa membauinya. Aneh.

Mawar Dwi Puji mulai panik, khawatir apa yang dialaminya adalah gejala Covid-19. Awal Juli 2021 itu wilayahnya sudah masuk zona merah. Kanan-kiri sebelah rumah sudah terpapar. Varian Delta sedang mengamuk.

Wanita 37 tahun itu memanggil layanan tes swab ke rumah. Dua putranya menjalani tes antigen lebih dulu dan hasilnya positif. Tes Covid suaminya menunjukkan hasil yang sama. Mawar semakin syok. Giliran dia, hasil antigen dua garis tipis, alhasil minta dilakukan tes PCR. Dan hasilnya juga positif.

Kehamilan Mawar telah memasuki 9 bulan. Dia batuk-batuk disertai sesak napas dan penciuman hilang. Begitu juga nafsu makan, padahal dia butuh cukup asupan untuk menunjang bayi di kandungan. Sedikit demi sedikit berat badannya menyusut. 

Di rumah itu hanya Mawar yang paling parah. Suami dan anak-anaknya nyaris tanpa gejala. Hanya batuk pilek di awal. Mawar belum divaksin sama sekali, sedangkan suaminya sudah lengkap.

Untunglah dukungan keluarga dan para kerabat membuat kondisi Mawar tetap stabil. Adiknya yang seorang bidan selalu aktif memantau dari jauh. Ayahnya yang tinggal di Jawa Tengah hampir setiap hari melakukan panggilan video call meski hanya bisa menangis tak tega melihat anaknya yang tengah hamil tua mesti dibebani corona.

Begitu juga dokter kandungannya yang tak bosan-bosan meyakinkan bahwa si jabang akan bayi baik-baik saja. Dokter kandungan meresepkan semua obat-obatan yang dibutuhkan dan aman.

Empat belas hari berlalu, anosmia hilang. Keluarga itu kembali melakukan tes PCR dan hasilnya negatif. Mereka langsung sujud syukur. 

Mawar mulai memberanikan diri keluar rumah untuk mengambil uang di ATM. Tiba-tiba dia merasakan sakit perut. Tenyata kontraksi, bayinya mau lahir.

Masuk rumah sakit Mawar harus kembali tes swab. Di luar dugaan ternyata hasilnya positif. Menurut dokter itu karena masih ada sisa-sisa virus tapi tidak terlalu bahaya.

Mawar terpaksa melahirkan di ruang IGD. Seluruh bidan dan dokter yang membantu persalinan memakai hamzat. 

Persalina sudah memasuki bukaan 8. Kontraksi semakin hebat. Perjuangan hidup dan mati. Napasnya terengah-engah, berteriak pun sulit karena terhalang masker. Hingga berjam-jam akhirnya bayi perempuan yang sangat dinanti itu lahir ke dunia. Sehat walafiat. 

Efek Long Covid Dua Bulan Rambut Rontok

Dengan berat hati Uni Lula terpaksa meninggalkan suami dan tiga anaknya yang masih kecil karena harus pergi isoma. Hanya Uni di keluarga itu yang terpapar Covid-19, dan dia memilih isolasi di tempat lain.

Pelan-pelan Uni melewati pintu masuk sebuah wisma di kawasan Hang Jebat, Jakarta Selatan. Tangan kanannya menarik koper sementara tangan kiri menenteng tas.

Di tempat itu pasien Covid menjalani insoman. Mereka menempati kamar sendiri-sendiri. Makan dan minum serta buat-buahan tersedia, tetapi tidak ada tenaga kesehatan. 

Hanya di sana lokasi isoman yang masih menerima pasien. Wisma Atlet penuh dan tempat lain rata-rata full.

Pertengahan Juni tahun lalu itu Indonesia tengah menghadapi gelombang kedua yang didominasi varian Delta. Rumah sakit kehabisan tempat tidur.

Di hari pertama, staf corporate communication di salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia itu memang tidak mengalami gejala berat. Namun dia kehilangan penciuman. Indera perasa juga tidak berfungsi. Hari-hari di tempat isolasi dia lewati seorang diri, tanpa teman berkawan sepi.

Suatu malam di hari keenam wanita 38 tahun itu tiba-tiba terbangun karena tubuhnya menggigil. Entah apa penyebabnya, tidak tahu pasti apakah ini bagian dari gejala. Dia kemudian berjalan keluar menuju toilet karena ingin buang air kecil. Tubuhnya sempoyongan. 

Baca Juga: Ada Tambahan, Ini Daftar 6 Jenis Vaksin Booster di Indonesia dan Mekanisme Pemberiannya

Uni bergegas cepat menyudahi urusannya di kamar mandi dan kembali ke kamar karena merasa sudah tidak kuat lagi. Badannya dibaringkan di tempat tidur lama-lama kesadarannya hilang. Pingsan. Tidak lama setelah itu dia siuman. Tetapi kondisinya jauh lebih baik. 

Kemungkinan asam lambungnya kumat. Entah karena telat makan atau efek kerasnyoa obat antivirus yang dia minum.

Hari ke sembilan kejadian itu terulang. Badan tiba-tiba lemas lalu kehilangan kesadaran. 

Pada hari ke sepuluh Uni memutuskan pulang ke rumah. Dia ingin melanjutkan isoman di rumah karena trauma dengan kejadian hari ke enam dan ke sembilan. Kehilangan kesadaran seorang diri di kamar tanpa ada satupun yang bisa dimintai tolong. Dia khawatir terjadi sesuatu.

Hingga hari ke 14, Uni menjalani isolasi di rumah. Dia menempati kamar di lantai dua, sementara anak-anak dan suaminya di bawah. Masa isoman pun rampung dan tes PCR menunjukkan hasil negatif. Hal pertama yang dia lakukan adalah menciumi anaknya satu-satu. Rindu memeluk mereka.

Tanpa disangka ternyata Uni mengalami long Covid. Penciumannya tak kunjung pulih hingga berminggu-minggu setelah selesai isoman. Makan juga tidak ada rasa.

Rambutnya pun menipis akibat terus menerus rontok. Sekitar dua bulan setelah negatif Uni mengalami kerontokan yang cukup parah. Namun memasuki bulan ketiga semua gejala hilang dengan sendirinya.

Penulis : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU