> >

Mengenal Istana Kepresidenan Tampaksiring Bali, Dibangun Pasca Indonesia Merdeka

Sinau | 19 Mei 2021, 11:02 WIB

KOMPAS.TV - Istana Tampaksiring adalah istana kepresidenan yang terletak di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali.

Pembangunannya dimulai tahun 1957 hingga tahun 1960 atas prakarsa Presiden Soekarno, dibangun sebagai tempat peristirahatan bagi Presiden RI beserta keluarga maupun bagi tamu-tamu negara.

Kompleks Istana Kepresidenan Tampaksiring terdiri dari 4 bangunan utama, yaitu Wisma Merdeka, Wisma Yudistira, Wisma Negara, dan Wisma Bima.

Nama tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa bali yaitu “tampak” yang berarti telapak, dan “siring” yang berarti miring.

Menurut sebuah legenda yang terekam pada Daun Lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja bernama Mayadenawa.

Sifat angkara murka yang dimiliki Raja Mayadenawa membuat Batara Indra marah dan mengirimkan bala tentaranya.

Raja Mayadenawa lari masuk ke hutan, dan berjalan dengan memiringkan telapak kaki agar pengejarnya kehilangan jejak.

Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah yang dikenal dengan nama Tampaksiring.

Istana Kepresidenan Tampaksiring dibangun secara bertahap, dan arsiteknya ialah R.M Soedarsono.

Istana Kepresidenan Tampaksiring jadi satu-satunya istana yang dibangun pasca Indonesia merdeka.

Presiden Soekarno jadi yang pertama kali berkunjung dan menginap usai Istana Tampaksiring selesai dibangun.

Sementara Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand beserta Ratu Sirikit jadi tamu negara yang pertama kali menginap di istana ini pada tahun 1957.

Istana Tampaksiring juga kerap digunakan sebagai tempat pertemuan-pertemuan informal bernuansa politik, salah satunya saat Presiden Ne Win dari Burma melakukan perundingan dengan Presiden Soeharto pada 1982.

Kepala-kepala negara lain juga pernah diterima di Istana Tampaksiring, mulai dari Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard (Belanda), hingga Eks Sekjen PBB Javier Perez De Cuellar.(*)

Grafis: Arief Rahman

Penulis : Gempita-Surya

Sumber : Kompas TV


TERBARU