> >

Martti Ahtisaari Meninggal Dunia, Tokoh Mediator Perdamaian Aceh dan Pemenang Nobel Perdamaian

Kompas dunia | 17 Oktober 2023, 09:05 WIB
Martti Ahtisaari, mantan presiden Finlandia dan mediator perdamaian Aceh peraih Nobel Perdamaian 2008 atas karyanya menyelesaikan konflik internasional, meninggal dunia hari Senin, (16/10/2023). Ia berusia 86 tahun. (Sumber: CMI / Jenni-Justiina Niemi)

HELSINKI, KOMPAS.TV - Martti Ahtisaari, mantan presiden Finlandia dan mediator perdamaian Aceh yang dianugerahi Nobel Perdamaian tahun 2008 atas karyanya dalam menyelesaikan konflik internasional, meninggal dunia hari Senin, (16/10/2023). Ia berusia 86 tahun.

Yayasan yang dibuatnya untuk mencegah dan menyelesaikan konflik bersenjata mengatakan mereka "sangat bersedih atas kehilangan pendirinya dan mantan ketua dewan."

Pada tahun 2021, diumumkan bahwa Ahtisaari telah mengidap penyakit Alzheimer yang parah.

"Dengan sangat sedih kami menerima berita kematian Presiden Martti Ahtisaari," kata Presiden Finlandia Sauli Niinistö dalam sebuah pernyataan. "Ia adalah presiden di masa perubahan, yang membawa Finlandia ke era Uni Eropa global."

Niinistö menggambarkan Ahtisaari dalam pidato televisi sebagai "warga dunia, orang besar Finlandia, seorang guru, diplomat, dan kepala negara. Seorang perunding perdamaian dan pemenang Nobel Perdamaian."

Ahtisaari membantu mencapai kesepakatan perdamaian yang terkait dengan penarikan Serbia dari Kosovo pada akhir 1990-an, upaya Namibia untuk merdeka pada tahun 1980-an, dan perdamaian serta otonomi bagi provinsi Aceh di Indonesia tahun 2005.

Ahtisaari juga terlibat dalam proses perdamaian Irlandia Utara pada akhir 1990-an, dengan tugas memantau proses pembekuan senjata IRA.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyebut Ahtisaari sebagai "pahlawan perdamaian, keamanan, dan pencegahan konflik," menambahkan bahwa "saya mengagumi pekerjaan perdamaian yang dilakukannya di Balkan Barat."

"Presiden Ahtisaari berkomitmen seumur hidupnya untuk perdamaian, diplomasi, kebaikan kemanusiaan, dan memiliki pengaruh luar biasa pada masa kini dan masa depan kita," kata Presiden Kosovo Vjosa Osmani. "Ia mencetak kerangka negara kami, dan namanya akan tetap abadi dalam sejarah Republik Kosovo."

Baca Juga: Asal Muasal Pengungsi Rohingya Terdampar di Aceh: Sebulan Terkatung di Laut, Satu Kapal Diduga Kara

Martti Ahtisaari, mantan presiden Finlandia dan mediator perdamaian Aceh peraih Nobel Perdamaian 2008 atas karyanya menyelesaikan konflik internasional, meninggal dunia hari Senin, (16/10/2023). Ia berusia 86 tahun. (Sumber: AP Photo)

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebutnya sebagai "seorang visioner" dan "juara perdamaian" di X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter. Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menyebut Ahtisaari sebagai "seorang negarawan yang luar biasa dan seorang teman baik" dan mengatakan bahwa ia memberikan "kontribusi penting dalam proses perdamaian Irlandia Utara."

Kanselir Jerman Olaf Scholz menulis di X bahwa "kami kehilangan seorang diplomat luar biasa." Ia menunjuk pada mediasi Ahtisaari "dalam banyak konflik, termasuk di Balkan" saat menghadiri pertemuan pemimpin Balkan Barat di Albania.

Ketika Komite Nobel Perdamaian Norwegia memilih Ahtisaari pada Oktober 2008, mereka menyebutnya "atas upayanya yang penting, di beberapa benua dan lebih dari tiga dekade, untuk menyelesaikan konflik internasional."

Ahtisaari menjabat sebagai presiden negara Nordik tersebut selama satu periode enam tahun, dari tahun 1994 hingga 2000, dan kemudian mendirikan Crisis Management Initiative yang berbasis di Helsinki, yang bertujuan untuk mencegah dan menyelesaikan konflik bersenjata melalui dialog informal dan mediasi.

Lahir pada 23 Juni 1937, di kota timur Viipuri, yang sekarang menjadi kota Rusia Vyborg, Ahtisaari adalah seorang guru sekolah dasar sebelum bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Finlandia pada tahun 1965.

Ia menghabiskan sekitar 20 tahun di luar negeri, pertama sebagai duta besar untuk Tanzania, Zambia, dan Somalia, dan kemudian ke Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Ia kemudian bergabung dengan PBB, bekerja di markas besar New York, dan pada tahun 1978 diangkat sebagai perwakilan khusus untuk Namibia oleh Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Kurt Waldheim.

Ia memimpin operasi pemelihara perdamaian PBB pada tahun 1980-an yang menghasilkan kemerdekaan Namibia dari Afrika Selatan pada tahun 1990.

 

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Associated Press


TERBARU