> >

Pembangkit Listrik Gaza Terancam Berhenti Beroperasi karena Blokade, Palestina: Pembunuhan Massal

Kompas dunia | 11 Oktober 2023, 16:35 WIB
Reruntuhan Masjid Yassin di kamp pengungsian Shati, Gaza yang hancur akibat serangan udara Israel, Senin (9/10/2023). Satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza terancam berhenti beroperasi dalam waktu beberapa jam karena kekurangan bahan bakar minyak. Hal tersebut terancam membuat layanan dasar berhenti beroperasi dan rumah sakit tidak bisa menggunakan peralatan listrik. (Sumber: Adel Hana/Associated Press)

GAZA, KOMPAS.TV - Satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza terancam berhenti beroperasi dalam waktu beberapa jam karena kekurangan bahan bakar minyak. Hal tersebut terancam membuat layanan dasar berhenti beroperasi dan rumah sakit tidak bisa menggunakan peralatan listrik.

Kantor Media Pemerintah Palestina menyatakan bahwa situasi ini akan menimbulkan krisis kemanusiaan di Gaza di tengah serangan balasan Israel. Palestina pun mendesak komunitas internasional bertindak.

"Jalur Gaza di ambang katastrofe kemanusiaan dengan pembangkit listrik mati sepenuhnya dalam waktu beberapa jam karena kurangnya bahan bakar," demikian tulis pernyataan Kantor Media Pemerintah Palestina di Gaza sebagaimana dikutip Al Jazeera, Rabu (11/10/2023).

"(Komunitas internasional) harus bertindak cepat menghentikan kejahatan terhadap kemanusiaan dan pembunuhan massal dalam berbagai bentuk ini, dan menyediakan Jalur Gaza dengan berbagai bantuan, tidak meninggalkannya. Penduduk (Gaza) menjadi sandera mesin pembunuh yang digunakan penjajah."

Baca Juga: Israel Persiapkan Invasi Darat ke Jalur Gaza, Terjunkan 300 Ribu Tentara untuk Serang Hamas

Seiring habisnya stok bahan bakar, Menteri Kesehatan Palestina Mai Al-Khaila menyebut generator-generator di rumah sakit Gaza hanya bisa bertahan hingga Kamis (12/10) besok. 

"Stok bahan bakar untuk mengoperasikan rumah sakit-rumah sakit Jalur Gaza akan habis besok, Kamis, yang mana akan memperburuk kondisi kacau di rumah sakit-rumah sakit, khususnya setelah listrik habis beberapa jam dari sekarang," kata Al-Kaila.

Sementara itu, badan PBB yang mengurusi pengungsi Palestina di Gaza, UNRWA menyebut pasokan makanan dan air di Gaza hanya akan bertahan selama 12 hari. Wakil Direktur UNRWA Jennifer Austin menyebut kini terdapat lebih dari 180.000 orang yang mengungsi di sekolah-sekolah UNRWA di Gaza.

"Kami punya pasokan makanan dan air selama 12 hari. Jalanan diblokade, kami tidak punya sambungan telepon, jaringan kami pun terkena serangan udara. Sangat sulit bagi kami mengetahui apa yang terjadi," kata Austin.

Israel sendiri memblokade total Jalur Gaza dan memutus aliran listrik dan air ke enklave tersebut. Palestina juga tidak bisa mendapatkan pasokan bahan bakar dan makanan melalui Gerbang Rafah yang berbatasan dengan Mesir. 

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU