> >

Update Pemilu Turki: Jelang Putaran Kedua, Erdogan Ternyata Dapat Banyak Dukungan di Daerah Bencana

Kompas dunia | 27 Mei 2023, 13:01 WIB
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan pendukungnya di Istanbul, Minggu (14/5/2023). (Sumber: DHA via AP)

ANKARA, KOMPAS.TV - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang menjadi petahana di Pemilu Turki ternyata mendapatkan banyak dukungan dari daerah bencana.

Erdogan menghadapi putaran kedua pemilu Turki, yang akan dilangsungkan, Minggu (28/5/2023).

Daerah yang dimaksud adalah Kahramanmaras, yang merupakan lokasi gempa besar di Turki, Februari lalu.

Dua gempa besar terjadi tiga bulan lalu, yang membunuh lebih dari 50.000 orang di wilayah tersebut.

Baca Juga: Partai Erdogan Terbelah Jelang Putaran Kedua Pemilu Turki, Ini Penyebabnya

Meski begitu, kepercayaan masyarakat Kahramanmaras terhadap Erodgan masih cukup besar.

Salah satunya seorang warga berusia 18 tahun, yang hanya menyebutkan namanya Can.

Ia menunjukkan favoritismenya terhadap Erdogan, sembari membersihkan sisa-sisa reruntuhan di wilayah tersebut.

“Ia bekerja keras untuk negaranya,” ujarnya dikutip The Guardian, Jumat (26/5), menjelaskan keputusannya akan mendukung Erdogan.

Pada putaran pertama pemilu Turki, Erdogan secara mengejutkan berhasil menang di tujuh dari 11 provinsi yang terdampak gempa.

Hasil tersebut menjungkirbalikkan harapan adanya kematahan public tentang penundaan tanggap darurat pemerintah.

Juga terkait korupsi yang meluas di sektor konstruksi, yang berkembang selama pemerintahan Erdogan.

Sebelumnya hal itu disebut dapat mendorong perubahan radikal dalam pemilih, bahkan di kalangan pemilih konservatif di Kahramanmaras.

Bahkan Erdogan mampu menang dengan 72 persen suara di Kahramanmaras, wailayah yang mencakup pusat gempa awal dan mengalami beberapa kehancuran terburuk.

Jumlah itu hanya kalah dua persen dibandingkan dengan pemilihan terakhir di Kahramanmaras pada 2018.

Hal itu juga menunjukkan bagaimana Erdogan lebih popular dibandingkan partainya, Partai AKP, yang kehilangan lebih dari 11 persen suara sejak pemilihan terakhir.

Banyak pemilih mengaitkan masalah dalam pemerintahan, termasuk tanggap gempa dengan AKP, tetapi tidak dengan Erdogan.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa Kembali Diserbu Pemukim Ilegal Israel, Ribuan Rakyat Palestina Demonstrasi di Gaza

Rival Erdogan, Kemal Kilicdaroglu melaju dengan marjin tipis dengan Erdogan di kota-kota besar Turki, di mana inflasi dan krisis ekonomi yang menggigit terasa.

Tetapi pesan perubahannya tampaknya gagal menyentuh banyak provinsi pedesaan seperti Kahramanmaras.

Para pemilih di sana merasa tak yakin dengan Kilicdaroglu, bahkan menunjuk pada catatan Erdogan dalam memperbaiki layanan publik, mengawasi kemajuan industri pertahanan negara dan mengembangkan infrastruktur seperti jalan raya dan bandara.

Mereka bahkan memisahkannya dalam hubungan antara korupsi di sektor pembangunan, dan kehancuran di zona gempa bumi.

“Jika ada harga yang harus dibayar, ini adalah beban yang kami tanggung demi ekonomi,” ujar warga Kahramanmaras lainnya, Hikmet Bulbul.

Bulbul mengatakan ia memang melihat adanya kenaikan harga, tetapi tak mengaitkannya dengan kebijakan Erdogan.

“Ya, mungkin Erdogan harus pergi, tetapi hanya jika siapa pun yang menggantikannya akan memberikan layanan yang sama,” katanya.

 

Beberapa pemilih, termasuk pemilih pemula berusia 20 tahun, Melike Ozbulut, juga khawatir kemenangan oposisi akan berarti kembalinya sekulerisme yang dipaksakan berlaku di tahun-tahun sebelum Erdogan berkuasa.

“Saya lahir pada tahun 2000. Saya tak melihat bagaimana tahun 1990-an, tetapi orang tua saya memberitahu apa yang terjadi saat itu,” ujarnya.

“Memberikan suara untuk Kilicdaroglu berarti saya bisa di posisi yang sama dengan perempuan seperti saya pada saat itu, dan saya tak ingin berada di posisi tersebut. Itu sebabnya saya tak memilih untuknya,” tambahnya.

Baca Juga: Erdogan: Turki akan Jawab Kampanye Hitam Media Barat dalam Pemilihan Presiden Putaran Kedua 28 Mei

Koalisi Kilicdaroglu mencakup partai agama, dan kelompok-kelompok yang memisahkan diri dari Partai AK.

Itu dimaksudkan untuk membuat para pemilih yang konservatif secara sosial dan relijius merasa aman memilih oposisi.

Namun, mereka hanya tampil sedikit dalam kampanye oposisi, dan pesan keselamatan yang diinginkan pemilih konservatif, hilang dari pemilih seperti Ozbulut.

“Anda bisa lihat, saya memakai hijab tetapi saudari saya tidak. Itu menunjukkan adanya kebebasan di negara ini. Saya akan meilih Erdogan,” ucapnya.

Penulis : Haryo Jati Editor : Gading-Persada

Sumber : The Guardian


TERBARU