> >

Suara Lirih Minta Tolong Terus Terdengar Sejak Semalam dari Bawah Reruntuhan Gempa Turki dan Suriah

Kompas dunia | 7 Februari 2023, 15:17 WIB
Warga Turki di kota Adana dengan tangan kosong berupaya membongkar beton untuk menyelamatkan korban yang masih hidup di bawah reruntuhan gedung, akibat gempa dahsyat di Turki dan Suriah hari Senin, (6/2/2023). Teriakan minta tolong yang menyayat hati terus terdengar korban selamat yang terjebak di bawah puing-puing sejak dini hari di hari Selasa, (7/2/2023). (Sumber: AP Photo/Khalil Khamra)

HATAY, KOMPAS.TV - Suara lirih minta tolong yang menyayat hati dari korban selamat yang terjebak di bawah puing-puing reruntuhan akibat gempa Turki dan Suriah terus terdengar sejak Selasa (7/2/2023) dini hari. Anggota keluarga yang putus asa menggali korban selamat yang masih terjebak dalam reruntuhan dengan sekop dan tangan kosong dalam suhu yang sangat dingin.

Dikutip New York Times dari laporan Associated Press, Selasa (7/2/2023), korban tewas di Turki dan di tetangga barat laut Suriah naik menjadi lebih dari 4.800 orang setelah gempa berkekuatan 7,8 mengguncang Turki dan Suriah hari Senin pagi, merobohkan seluruh blok apartemen di wilayah terhantam gempa, menghancurkan rumah sakit dan menyebabkan puluhan ribu orang terluka atau kehilangan tempat tinggal.

Tim tanggap bencana Turki dan Suriah melaporkan bahwa lebih dari 5.600 bangunan rata dengan tanah di beberapa kota, termasuk banyak blok apartemen bertingkat yang dipenuhi penghuni yang sedang tidur ketika gempa pertama terjadi.

Di bawah tumpukan puing di provinsi selatan Hatay, suara seorang wanita terdengar meminta bantuan. Di dekatnya, tubuh seorang anak kecil terbaring tak bernyawa.

Menangis di tengah hujan, seorang warga sekitar yang menyebut namanya Deniz meremas-remas tangannya putus asa.

"Mereka berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang datang," katanya. “Kami hancur, kami hancur. Ya Allah… Mereka memanggil. Mereka mengatakan, 'Selamatkan kami', tapi kami tidak bisa menyelamatkan mereka. Bagaimana kita akan menyelamatkan mereka? Tidak ada siapa-siapa sejak pagi.”

Suhu turun mendekati titik beku semalaman, kondisi yang memburuk bagi orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan atau kehilangan tempat tinggal.

Di Kahramanmaras, utara Hatay, seluruh keluarga berkumpul di sekitar api unggun dan membungkus diri dengan selimut agar tetap hangat.

“Kami hampir tidak bisa keluar rumah,” kata Neset Guler, berkerumun di sekitar api dengan keempat anaknya. “Situasi kami adalah bencana. Kami lapar, kami haus. Itu menyedihkan.”

Baca Juga: Dunia Gerak Cepat Kirim Tim Penyelamat ke Turki dan Suriah, Berpacu Selamatkan Korban Gempa Bumi

Petugas penyelamat bersama warga dengan alat seadanya berupaya mencari korban selamat gempa dahsyat di Turki dan Suriah. Teriakan minta tolong yang menyayat hati terus terdengar korban selamat yang terjebak di bawah puing-puing sejak dini hari di hari Selasa, (7/2/2023). (Sumber: AP Photo)

Pada hari Selasa, outlet media pemerintah Anadolu Agency melaporkan bahwa jumlah korban tewas di Turki telah meningkat menjadi 3.381, dengan 15.834 orang terluka, menjadikannya gempa paling mematikan di negara itu sejak 1999, ketika gempa dengan kekuatan yang sama menewaskan lebih dari 17.000 orang.

Lebih dari 1.450 orang tewas di Suriah dan sekitar 3.500 terluka, menurut angka dari pemerintah Damaskus dan petugas penyelamat di wilayah barat laut yang dikuasai pemberontak.

Ada kekhawatiran jumlah korban akan terus meningkat, dengan pejabat Organisasi Kesehatan Dunia WHO memperkirakan hingga 20.000 orang mungkin telah meninggal.

Presiden Turki Tayyip Erdogan tampak terpukul namun berusaha tegar, menyebut gempa itu sebagai bencana bersejarah dan mengatakan pihak berwenang melakukan semua yang mereka bisa.

“Semua orang berusaha sepenuh hati meskipun musim dingin, cuaca dingin dan gempa bumi yang terjadi pada malam hari membuat segalanya menjadi lebih sulit,” katanya. Dia menambahkan bahwa 45 negara telah menawarkan bantuan dalam upaya pencarian dan penyelamatan.

Di kota Iskenderun, Turki, tim penyelamat memanjat tumpukan puing yang dulunya merupakan bagian dari unit perawatan intensif rumah sakit pemerintah untuk mencari korban selamat. Petugas kesehatan melakukan apa yang mereka bisa untuk menangani serbuan baru pasien yang terluka.

"Kami memiliki seorang pasien yang dioperasi tetapi kami tidak tahu apa yang terjadi," kata seorang wanita berusia 30-an, yang hanya ingin dikenal sebagai Tulin. Dia berdiri di luar rumah sakit, menyeka air mata dan berdoa.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV/New York Times/Associated Press


TERBARU