> >

Erdogan Tegaskan Bila Ingin Gabung NATO, Swedia dan Finlandia Harus Deportasi 130 'Teroris'

Kompas dunia | 17 Januari 2023, 15:10 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Nusa Dua, Bali, Selasa (15/11/2022). (Sumber: AFP/POOL/BAY ISMOYO)

ANKARA, KOMPAS.TV - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mensyaratkan Swedia dan Finlandia mendeportasi atau mengekstradisi ke Turki hingga 130 orang, yang dipandang Turki sebagai teroris, sebelum parlemen Turki menyetujui Swedia dan Finlandia bergabung Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO, seperti laporan Straits Times, Selasa (17/1/2023)

Dua negara Nordik itu tahun lalu mendaftar untuk bergabung dengan NATO setelah serangan Rusia ke Ukraina, tetapi tawaran mereka harus disetujui oleh semua 30 negara anggota NATO termasuk Turki. Hingga saat ini Turki dan Hongaria belum menyetujui permintaan Swedia dan Finlandia untuk bergabung dengan NATO.

Turki mengatakan Swedia khususnya harus terlebih dahulu mengambil sikap yang lebih jelas terhadap apa yang dilihat Turki sebagai teroris, terutama militan Kurdi dan kelompok yang disalahkan atas upaya kudeta tahun 2016 terhadap Erdogan.

"Kami mengatakan, lihat, jadi jika Anda tidak menyerahkan teroris Anda kepada kami, kami tidak dapat meneruskannya (persetujuan aplikasi NATO) melalui Parlemen," kata Erdogan dalam komentar hari Minggu malam, merujuk pada konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson November lalu.

“Agar ini lolos Parlemen, pertama-tama, Anda harus menyerahkan lebih dari 100, sekitar 130 teroris ini kepada kami,” kata Erdogan.

Baca Juga: Beberapa Pemimpin NATO Dukung Niat Swedia dan Finlandia Bergabung serta Janjikan Dukungan ke Ukraina

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg memamerkan dokumen pengajuan keanggotaan dari Swedi dan Finlandia untuk bergabung dengan NATO. Foto diambil di Brussel, Belgia, Rabu (18/5/2022). (Sumber: Johanna Geron/Pool Reuters via AP)

Politisi Finlandia menafsirkan permintaan Erdogan sebagai tanggapan marah atas insiden di Stockholm pekan lalu di mana patung pemimpin Turki itu digantung selama protes kecil.

“Saya percaya, ini pasti reaksi terhadap peristiwa beberapa hari terakhir,” kata menteri luar negeri Finlandia, Pekka Haavisto, kepada penyiar publik YLE.

Haavisto mengatakan dia tidak mengetahui adanya tuntutan resmi baru dari Turki.

Menanggapi insiden di Stockholm, Turki membatalkan rencana kunjungan Ketua Parlemen Swedia Andreas Norlen ke Ankara, yang justru datang ke Helsinki hari Senin.

“Kami menekankan, di Finlandia dan Swedia kami punya kebebasan berekspresi. Kami tidak bisa mengendalikannya,” kata Ketua Parlemen Finlandia, Matti Vanhanen, kepada wartawan dalam konferensi pers bersama dengan Norlen.

Secara terpisah hari Senin, Kristersson mengatakan negaranya berada dalam "posisi yang baik" untuk mengamankan ratifikasi Turki atas tawaran NATO-nya.

Juru bicara Erdogan, Ibrahim Kalin, mengatakan pada hari Sabtu bahwa waktu hampir habis bagi Parlemen Turki untuk meratifikasi tawaran sebelum pemilihan presiden dan parlemen yang diharapkan pada bulan Mei.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV/Straits Times


TERBARU