> >

Diminta Tenang oleh NATO, Panglima Militer Serbia: Situasinya Serius, Tentara Harus Terlibat

Kompas dunia | 27 Desember 2022, 15:58 WIB
Menteri Pertahanan Serbia Milos Vucevic (tengah) berbicara dengan Panglima Militer Serbia Jenderal Milan Mojsilovic (tengah-kiri) ketika mengunjungi barak pasukan di Raska, Serbia, dekat perbatasan Kosovo, Senin (26/12/2022). (Sumber: Kementerian Pertahanan Serbia via AP)

BEOGRAD, KOMPAS.TV - Serbia dilaporkan menyiagakan tentara dengan "kesiapan tempur penuh" di perbatasan dengan Kosovo pada Senin (26/12/2022) seiring meningkatnya ketegangan kedua negara. Serbia mengabaikan permintaan NATO agar semua pihak menahan diri terkait eskalasi situasi di perbatasan.

Panglima militer Serbia, Jenderal Milan Mojsilovic,  mengaku bahwa angkatan bersenjata telah menerima arahan "jelas dan tepat" dari Presiden Aleksandar Vucic. Namun, ia enggan menjabarkan "rencana operasi" yang sempat disinggung Menteri Dalam Negeri Serbia Bratislav Gasic.

Jenderal Mojsilovic menyebut situasi di perbatasan Serbia-Kosovo "serius".  Ia menegaskan bahwa "kehadiran militer Serbia di sepanjang perbatasan administratif (dengan Kosovo)" diperlukan.

Baca Juga: Penangkapan Polisi Picu Ketegangan Antara Serbia dan Kosovo!

Menurut pantauan Associated Press, Senin (26/12), kendaraan-kendaraan militer Serbia berjajar di perbatasan dengan Kosovo. Serbia pun menyiagakan perlengkapan seperti meriam howitzer.

Serbia sendiri telah mengirim permintaan ke pasukan perdamaian di Kosovo yang dipimpin NATO, KFOR, untuk menerjunkan 1.000 tentara di utara Kosovo yang dihuni banyak etnis Serb. Beograd mengklaim kehadiran tentara diperlukan untuk mencegah dugaan perisakan oleh etnis Albania-Kosovo.

Akan tetapi, permintaan itu tidak disetujui hingga tensi di perbatasan Serbia-Kosovo memanas sejak akhir pekan lalu. Di utara Kosov, dilaporkan sempat terjadi penembakan saat KFOR berpatroli, tetapi insiden ini tidak mengakibatkan korban manusia.

Belakangan ini, etnis Serb di utara Kosovo memblokade jalan sebagai protes atas penangkapan seorang mantan kepala polisi Serbia. Sebelumnya, etnis Serb di kawasan tersebut ramai-ramai meninggalkan institusi Kosovo karena dugaan perisakan.

Menanggapi isu tersebut, Serbia berulangkali memperingatkan bahwa pihaknya akan melindungi etnis Serb-Kosovo "dengan segala cara" jika mereka diserang.

Kekhawatiran atas potensi konflik di Balkan semakim mengemuka sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari silam. Serbia, enggan mengakui kedaulatan Kosovo, mencari dukungan ke Rusia dan China untuk mengklaim bekas provinsinya itu. Sedangkan Kosovo didukung oleh Amerika Serikat (AS) dan kebanyakan negara Uni Eropa.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Associated Press


TERBARU